Oleh : Apt. Hj. Lale Syifaun Nufus, M.Farm.
(Ketua Pimpus Muslimat NW dan Wakil Ketua DPD Partai Gerindra NTB)

Pada 21 April, tepatnya 143 tahun sejak tahun 1879, Raden Adjeng Kartini atau lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah. RA Kartini merupakan Pahlawan Nasional Indonesia dan sosok figur emansipatoris. Pahlawan perempuan yang hari kelahirannya diperingati setiap 21 April ini, berjuang keras untuk kesetaraan bagi para wanita di Indonesia.
RA Kartini memang memiliki umur yang singkat (1879-1904), akan tetapi di usianya yang singkat itu, RA Kartini mampu menggoreskan sebuah riwayat yang masyhur dan menjadi inspirasi banyak orang. Mengapa tidak melalui surat-suratnya, ia mampu menggerakkan hati setiap pembacanya. Surat-surat yang ia tulis sejak 25 Mei 1899 sampai 7 September 1904.
Surat terakhir ia tulis tepat sepuluh hari sebelum ia meninggal. Gaya, ungkapan, serta ketajaman surat-surat itu mencerminkan kecerdasan serta pribadinya yang tanggap terhadap soal-soal kemanusiaan yang terjadi di sekitarnya. Kartini tampil sebagai pribadi yang gelisah, yang bertanya. Sekalipun dalam ciri-ciri aristokrasinya lembut dan penuh etiket kesopanan, tapi apa yang ia katakan dan tuliskan adalah sebuah protes, bahkan ia meneriakkan tuntutan-tuntutan yang keras dan sarkastis.
Surat-surat Kartini telah menjadi bukti sejarah tentang kemelut yang terjadi saat itu.Feodalisme dan kolonialisme yang sangat merugikan kaumnya dan bangsanya menjadikan titik awal munculnya pemikiran Kartini tentang perubahan, pendidikan, dan perempuan. Pemikiran-pemikiran yang demikian itu dapat kita lacak pada surat-surat yang dibuatnya, seperti:
Surat Kepada Nyonya M.C.E. Ovink Soerpada awal 1900
Pada surat ini, kita belajar tentang memajukan peradaban tidak cukup hanya kecerdasan pikiran, tetapi pertumbuhan budi harus sama-sama dimajukan. Dan yang paling banyak membantu mempertinggi kadar budi manusia adalah wanita, ibu. Karena manusia pertama-tama menerima pendidikan dari seorang perempuan, dari tangan seorangperempuanlah, anak-anak mulai belajar, berpikir dan berbicara. Sehingga dikatakan pendidikan perempuan amat penting, tetapi bukan berarti pendidikan yang tinggi bukan untuk melawan laki- laki, tapi sebagai pendukung kesuksesan laki-laki serta menjadi pembangun bangsa.
Surat Kepada Nyonya Stella 23 Agustus 1900
Dalam suratnya kepada Stella, 23 Agustus 1900 ini, kita belajar tentang feodalisme sebagai pemicu terjadinya demarkasi (pemisah) antara hak-hak perempuan dan hak-hak laki-laki dan situasi tersebut sangat yang begitu merugikan kaumnya. Inilah yang membuat Kartini memiliki cita-cita yang besar untuk menghapus ketimpangan yang ada agar perempuan memiliki hak sama dengan kaum laki-laki.
Surat Kepada Nyonya Van Kol, tanggal 21 Juni 1902
Pada surat ini, kita belajar tentang keutamaan membuka madrasah-madrasah guna untuk memajukan masyarakatnya yang masih tertinggal, khususnya bagi perempuan sebagai faktor besar dalam memajukan kehidupan bangsa dan majunya peradaban. Semangat ini kita dapat telusuri pada bait-bait suratnya kepada Nyonya Van Kol, RA yang menancapkan cita-citanya yang ingin dididik sebagai guru di Negeri Belanda.
Tujuannya adalah memberikan yang baik dari peradaban Belanda kepada bangsanya, untuk memuliakan adat istiadatnya, membawa bangsa kepada tata susila yang lebih tinggi sebagai sarana umtuk mencapai keadaan masyarakat yang lebih baik dan bahagia.
Begitu juga dalam Surat Kepada Nyonya Stella, tanggal 9 Januari 1901 menukilkan semangat yang sama, yaitu “Perempuan adalah pendukung peradaban”.
Surat kepada Tuan Anton dan Nyonya, tanggal 4 Oktober 1902
Dalam surat ini, Kartini berusaha keras untuk meyakinkan para lelaki bahwa pendidikan bagi perempuan bukanlah bertujuan memberikan saingan bagi laki-laki, melainkan karena sebuah keyakinan bahwa perempuan membawa pengaruh besar bagi bangsa ini.
Surat yang tulis kepada Ny. Abendanon tanggal 15 Agustus 1902
Pada surat tersebut, merubah pandangan kita tentang pendidikan yang tidak hanya membentuk akal, namun juga pribadi yang luhur. Artinya pendidikan yang mampu menjadikan manusia cerdas secara akal maupun pribadi yang menjadikannya mampu menyaring apa yang baik untuk diserap.
Kutipan-kutipan singkat surat RA Kartini kepada para sahabat penanya di atas, kiranya telah cukup menguatkan kita tentang sosoknya sebagai figur yang menginspirasi para perempuan di Indonesa sekaligus sebagai sosok emansipatoris yang telah mengantarkan beliau sebagai pahlawan perempuan di Indonesia.
Kiprahnya yang tak pernah lelah membuka peta jalan pendidikan bagi perempuan terlebih bila dikaitkan dengan statusnya yang pernah “nyantri” kepada Kyai Sholeh Darat, maka RA Kartini dengan pemikirannya tentang pendidikan perempuan dan mengajinya secara tidak langsung juga dapat dikatakan sebagai perintis ataupun pembuka jalan bagi munculnya pendidikan pesantren bagi kaum perempuan yang sebelumnya dianggap tabu untuk perempuan mencari ilmu diluar rumah.
Apa yang dilakukan Kartini dengan “nyantrinya” menjadi titik awal terbukanya jalan bagi perempuan untuk masuk di pesantren dan memperoleh pengetahuan agama yang lebih baik. Sebab seperti yang RA Kartini katakan, perempuan adalah pendorong kemajuan bangsa, dengan ilmu pendidikan umum yang baik disertai ilmu agama yang mumpuni diharapkan akan muncul generasi yang terbaik pula.
Selamat memperingati hari RA Kartini 21 April 2022!
Semoga kita para perempuan Indonesia senantiasa memberikan kontribusi-kontribusi positif dalam memajukan peradaban!