Petani Menjerit, Ansori Pertanyakan Peran Bulog Sumbawa

Petani Menjerit, Ansori Pertanyakan Peran Bulog Sumbawa

Sumbawa Besar, SR – Kemampuan Bulog dalam menyerap gabah hasil panen petani dipertanyakan, padahal sebagai BUMN pangan lembaga itu diberi tugas utama untuk menyerap hasil panen.

Menyikapi kondisi saat ini, Wakil Ketua DPRD Sumbawa, Mohamad Ansori mengatakan, terkait harga gabah yang anjlok di saat petani sedang panen raya, khsusnya di Sumbawa. “Situasinya terjadi persoalan harga gabah di petani yang anjlok atau mengalami penurunan. Mulai 2 bulan yang lalu, bahwa petani di Sumbawa menjerit dengan harga gabahnya yang menurun,” ujar Ansori kepada Suara Rinjani, diruang kerjanya, Kamis (21/04). “Sampai sekarang sudah diadakan hearing yang pertama tapi belum ada solusinya,” tambahnya.

Dijelaskannya, berdasarkan dari surat masuk beberapa kelompok tani melalui perwakilannya untuk hearing terkait dengan bagaimana kondisi harga gabah.

Saat ditanya perihal persoalan harga gabah yang anjlok ini, ungkap Ansori, Bulog harus hadir karena ini terkait dengan serapan harga gabah agar pemerintah itu hadir akan menstabilkan harga, inilah yang diharapkan petani.

“Jadi, Bulog ini harus hadir sebagai wakil pemerintah untuk mengelola harga gabah hasil panen petani, ada dinas pertanian, pemerintah pusat kan,” cetus Ansori Politisi Gerindra ini.

Diakuinya, kalau kesulitannya ini penuh, kenapa belum panen sudah penuh stoknya, darimana berasnya jangan-jangan nanti impor.

“Untuk serapan pembelian gabah ke petani, Bulog bisa kerjasama dengan para pihak terkait dengan itu untuk menjamin bahwa setorlah gabah ke Bulog sesuai dengan Harga Penetapan Pemerintah (HPP). Kalau ini kesulitan terkait dengan rekanan masalah pembiayaannya pemerintah bisa aja menerbitkan kebijakan SKIM sama dengan perbankan lagi bahwa  untuk pengadaan gabah tadi disupport oleh kebijakan perbankaan melalui perjanjian yang dibuat oleh Bulog tapi harus ada rekomendasi dari dinas pertanian. Jadi, dibiayai oleh gabah,” paparnya.

Diungkapkannya, ditingkat produksi saya mendapatkan informasi mencapai Rp 3. 800.000  per 1 Kg itu mungkin paling tertinggi tapi mungkin masih ada yang dibawah itu.

“Kedepan Bulog sebagai wakil pemerintah harus menyerap gabah petani sesuai dengan harga jual gabah yang diberikan oleh pemerintah tadi,” pungkasnya. (bgs)

Bagikan Berita

Share this post