Studium Generale IAIH NW Lotim : Turats sebagai Peninggalan Abadi dan Ngaji bil Medsos

Studium Generale IAIH NW Lotim : Turats sebagai Peninggalan Abadi dan Ngaji bil Medsos

Lombok Timur, suararinjani.com – Sebagai awal dimulainnya perkulihan semster ganjil, Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) Nahdlatul Wathan Lombok Timur menggelar Studium Generale di Aula Majlis Dakwah Hamzanwadi II Pontren Syaikh Zainuddin NW Anjani, Selasa (03/09).
Pada Studium Generale kali, IAIH NW Lotim menghadirkan Guru Besar dari Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung Jawa Timur Prof. H Kojin, Agus Zaenal Fitri dan H Teguh, dengan tema ‘ Pendidikan Islam di Era 5.0 Revitalisasi Kajian Kutub Turats dalam Memguatkan Nilai-nilai Spritual dan Intektual’.
Hadir pada acara tersebut segenap Civitas Akademika IAIH NW Lotim dan ribuan mahasiswa dan santri NW.
Dalam sambutannya, Rektor IAIH NW Lotim KH LG Muhammad Zainuddin Atsani, mengatakan dalam era 5.0 kita harus mampu berkompetisi dengan cara meningkatkan kompetensi diri.
“Makanya yang harus kita miliki di era sekarang ini adalah kecerdesan spritual, kecerdasan intlektual dan kecerdasan digital,” tegasnya.
Prof Kojin memgangkat tema ‘Turats Sebagai Warisan Abadi bagi Setiap Generasi’. Menuritnya, Turats adalah Peninggalan yang bermanfaat ilmu/harta dari generasi pendahulu. Peninggalan berupa ilmu dan ini peninggalan abadi
Katanya, kesuksesan adalah orang yang bisa menggunakan kesempatan yang ada.
“Gunakan waktunya sebaik-baiknya. Jangan hanya makan dan tidur. Jadikan waktumu untuk ilmumu bertambah.Itulah yang namanya santri benaran,” ujarnya.
Maka, kata Kojin yang harus dilakukan generasi tetap membaca berkali-kali karena akan menemukan kemulian. Setelah itu, harus menulis agar bisa menjadi peninggalan.
“Tapi, harus diingat semakin tinggi ilmu seseorang makan semakin tinggi adab dan akhlaqnya. Peganglah filsafat padi, semakin berbuah semakin merunduk,” pungkasnya.
Sementara itu Mudir Forum Mudir Mahad PTKIN, H Teguh, banyak dari mahasiswa baru yang masuk ke perguruan tinggi agama tidak bisa baca tulis al-Quran dan Bahasa Arab, sehingga ini yang membuat kita di Forum Mudir Mahad PTKIN memberikan kelas khusus untuk belajar dan menulis arab.
Prof Agus Zaenal Fitri, menerangkan ilmu itu bukan di laptop akan tetapi ilmu itu ada dalam hati, maka harus kita bersungguh-sungguh karena kesuksesan milik orang-orang yang bersungguh-sunguh dalam menuntut ilmu. Penggunaan media digital telah memberikan kontribusi munculnya ruang publik baru di mana banyak muslim yang berbicara Agama Islam.
” Kajian Turats akan lebih dinamis namun salah satu tantangan berdakwah yang dihadapi saat ini adalah masalah penguasaan teknologi digital,” tegasnya.
Dengan kondisi ini, katanya, kecerdasan santri harus lebih dari 2 atau 3 diantaranya, kecerdasan intlektual, spritual, emosional dan kecerdasan tahan banting.
“Sudah saatnya kajian turats dengan media sosial (ngaji bil medsos). Dibandingkan dengan ngaji konvensional, kelebihannya adalah jangkauannya lebih luas,” pungkasnya. (red)

Bagikan Berita

Share this post