Oleh; Ratna Dewi
Nama perempuan itu Sekar (sebut saja namanya demikian). Namanya sederhana, seperti hidup yang sejak lama ia jalani dengan kesahajaan. Ia bukan siapa-siapa dalam daftar orang penting negeri ini, bukan pula tokoh yang kisahnya ditulis di halaman utama koran. Namun bagi dirinya sendiri, dan bagi seorang anak perempuan kecil yang selalu menggenggam tangannya, Sekar adalah segalanya: ibu, ayah, pelindung, sekaligus tempat pulang.
Sekar pernah menikah. Ia pernah percaya bahwa pernikahan adalah pintu menuju kehidupan yang lebih tenang, lebih utuh. Seperti kebanyakan perempuan lain, ia membawa harapan-harapan kecil saat melangkah ke pelaminan—tentang rumah yang hangat, tentang pasangan yang saling menopang, tentang masa depan yang bisa dibangun perlahan. Namun hidup ternyata tidak selalu berjalan searah dengan doa.
Suaminya pergi, bukan dengan koper dan salam perpisahan yang jelas, melainkan dengan ketidakhadiran yang panjang. Ia tidak menafkahi, tidak hadir sebagai kepala keluarga, dan perlahan menghilang dari tanggung jawab. Sekar bertahan selama mungkin, menunggu, berharap, menambal kekurangan dengan kesabaran. Tapi kesabaran pun ada batasnya. Ia akhirnya menjadi janda, dengan satu anak perempuan yang masih terlalu kecil untuk mengerti mengapa ayahnya tak pernah datang.
Dalam keadaan itulah Sekar kembali ke rumah orang tuanya disebuah desa kecil. Rumah tua dengan dinding yang sudah kusam, lantai yang dinginnya merambat ke tulang saat malam, dan atap yang terkadang bocor jika hujan turun terlalu deras. Namun rumah itu adalah tempat paling aman yang ia miliki saat itu. Di sanalah ibunya masih ada.
Ibunya—perempuan sepuh dengan tangan yang mulai gemetar, tapi hati yang tetap kokoh, adalah satu-satunya sandaran yang tidak pernah menuntut apa-apa selain ketulusan. Ia menerima Sekar dan cucunya tanpa syarat, tanpa tanya, tanpa mengungkit kegagalan. Di hadapan ibunya, Sekar tidak perlu berpura-pura kuat. Ia boleh menangis, boleh lelah, boleh rapuh.
Tahun-tahun berlalu dengan ritme yang pelan. Sekar bekerja sebagai pegawai honorer, di sebuah stasiun televisi milik pemerintah daerah Penghasilannya kecil dan harus menopang kehidupan putrinya dan ibunya. Tapi ia tetap bekerja dengan sungguh-sungguh, karena hanya itulah yang bisa ia lakukan. Setiap rupiah ia hitung, setiap kebutuhan ia pilah. Ia belajar hidup dengan cukup, bukan berlebih.
Anaknya tumbuh di sela-sela keterbatasan. Gadis kecil itu sering tertidur di pangkuan Sekar saat ibunya menyelesaikan pekerjaan rumah atau menghitung uang belanja. Sekar berjanji pada dirinya sendiri: apa pun yang terjadi, anak ini tidak boleh merasa tidak diinginkan oleh dunia.
Namun hidup kembali menguji keteguhan Sekar. Beberapa tahun kemudian, ibunya meninggal dunia. Kepergian itu merobohkan sesuatu di dalam dirinya. Bukan hanya kehilangan sosok ibu, tetapi juga kehilangan tempat berlindung. Rumah yang dulu terasa hangat mendadak menjadi ruang yang hampa. Setiap sudut mengingatkannya pada suara, pada nasihat, pada doa-doa lirih yang kini hanya tinggal gema. Sekar berduka dalam diam. Ia tidak punya kemewahan untuk larut terlalu lama, karena anaknya masih membutuhkan makan, sekolah, dan rasa aman. Namun sejak ibunya tiada, rumah itu perlahan berubah.
Salah satu saudaranya datang. Awalnya hanya berkunjung, lalu menginap, lalu menetap. Saudara itu sudah berkeluarga, membawa istri dan anak-anaknya. Sekar mencoba memahami—mungkin mereka juga butuh tempat. Tapi waktu berjalan, dan sikap pun berubah. Saudaranya mulai bersikap seolah rumah itu miliknya sepenuhnya. Kata-kata yang diucapkan sering tajam, keputusan dibuat tanpa melibatkan Sekar. Ia dianggap menumpang, meski ia telah tinggal di rumah itu jauh sebelum saudaranya datang. Setiap langkahnya diawasi, setiap kesalahan kecil dibesar-besarkan.
Sekar kembali belajar menelan rasa sakit. Namun kali ini berbeda. Tidak ada ibu untuk melindunginya. Tidak ada tempat untuk mengadu. Yang ada hanya dirinya sendiri dan anaknya.
Ketegangan memuncak ketika suatu hari ia diminta pergi. Tidak dengan kata-kata halus, melainkan dengan sikap arogan yang menyisakan luka. Sekar berdiri terpaku di ruang yang dulu ia sebut rumah, dengan anaknya yang menggenggam erat tangannya. Ia tidak berteriak, tidak melawan. Ia hanya tahu satu hal: ia harus pergi, demi harga diri, demi ketenangan anaknya.
Malam itu, Sekar tidak tahu harus ke mana. Ia berpindah dari satu tempat ke tempat lain, menumpang sementara, mengemas hidupnya dalam tas-tas kecil. Di tengah keputusasaan itu, sebuah gagasan muncul—sebuah gagasan yang selama ini ia anggap mustahil: memiliki rumah sendiri.
Bagi Sekar, rumah bukan sekadar bangunan. Rumah adalah rasa aman. Rumah adalah tempat di mana ia tidak perlu takut diusir. Rumah adalah ruang kecil di mana ia dan anaknya bisa tumbuh tanpa rasa cemas. Namun bagaimana mungkin? Ia hanya pegawai honorer, penghasilannya pas-pasan, tabungan hampir tidak ada. Tapi hidup telah mengajarkannya satu hal: tidak ada salahnya mencoba.
Dengan keberanian yang ia kumpulkan dari sisa-sisa harapan, Sekar mendatangi Bank BTN di kota tempatnya tinggal, Kabupaten Lombok Timur. Langkahnya ragu, tangannya dingin oleh cemas. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi, hanya tahu bahwa ia harus berusaha.
Di luar dugaan, proses yang ia hadapi tidak seberat yang ia bayangkan. Petugas menjelaskan dengan sabar, persyaratan tidak berbelit, dan ada pilihan rumah bersubsidi dengan harga yang masih bisa dijangkau. Rumah sederhana, tipe kecil, tapi cukup untuk dua jiwa yang selama ini hidup berpindah-pindah.
Sekar pulang dengan kepala penuh hitungan. Ia menghitung uang muka, cicilan, biaya hidup, dan kebutuhan anaknya. Setiap malam ia menimbang risiko. Ia tahu cicilan akan berat. Ia tahu hidupnya tidak serta-merta menjadi mudah. Tapi ia juga tahu, ini adalah satu-satunya jalan agar ia tidak terus hidup dalam ketidakpastian.
Dengan tekad bulat, Sekar mengumpulkan uang muka sedikit demi sedikit. Ia mengurangi pengeluaran, menahan keinginan, dan bekerja lebih keras. Setiap lembar uang yang ia sisihkan adalah potongan kecil dari kelelahan, tapi juga serpihan harapan.
Hari itu akhirnya tiba. Sekar resmi mengambil satu unit rumah bersubsidi di kompleks Jaysan Harmony Residence dibantu oleh seorang pengembang. Lokasinya cukup strategis, dipinggir jalan raya. Rumah itu tidak besar. Dindingnya polos, lantainya sederhana, dan halamannya sempit. Namun saat Sekar berdiri di ambang pintu, ia menangis. Tangis yang bukan lagi tangis kesedihan, melainkan kelegaan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia punya tempat yang bisa ia sebut “rumahku”.
Ia dan putrinya pindah dengan barang-barang seadanya. Kasur tipis, beberapa peralatan dapur, dan pakaian yang tidak banyak. Tapi malam pertama di rumah itu terasa berbeda. Tidak ada suara orang mengomel, tidak ada rasa takut harus pergi esok hari. Hanya ada keheningan yang damai.
Sekar tahu hidupnya masih berat. “Setiap bulan saya harus mencicil dengan susah payah,” katanya. Kadang ia harus memilih antara membeli sesuatu yang diinginkan anaknya atau menahan diri demi cicilan. Tapi ia tidak lagi kehujanan di rumah orang. Ia tidak lagi mengontrak tanpa kepastian. Ia berdiri di atas kakinya sendiri.
Di rumah sederhana itu, Sekar membangun kembali hidupnya. Ia mengecat dinding perlahan saat ada rezeki lebih, membuat dapur kecil dan tambahan kamar mandi. Rumah itu menjadi saksi perjuangannya—tentang perempuan yang pernah jatuh, tapi tidak menyerah.
Berkat keberaniannya, dan berkat jalan yang terbuka, Sekar kini bisa bernapas dengan lebih lega. Ia mungkin tidak kaya, tidak hidup mewah, tapi ia memiliki satu hal yang tidak ternilai: tempat pulang yang aman. Dan setiap malam, saat ia memeluk putrinya sebelum tidur, Sekar tahu—semua luka, semua air mata, semua kelelahan—tidak pernah sia-sia.
Seiring waktu berjalan, Sekar mulai menyadari satu hal yang dulu tak sempat ia rasakan: tenang. Ya, tenang karena setiap pagi ia bangun di rumah yang sama. Tenang karena kunci rumah itu ada di tangannya sendiri. Tenang karena tidak ada lagi rasa was-was akan dipandang sebagai beban atau orang yang “menumpang hidup”.
Setiap kali membuka pintu rumah kecil itu, Sekar selalu menarik napas panjang. Bukan karena lelah, melainkan karena rasa syukur yang sering datang tiba-tiba. Ia teringat hari-hari ketika keberanian mengalahkan ketakutan—saat ia melangkah ke Bank BTN dengan status pegawai honorer dan hati yang penuh keraguan. Ia tak pernah menyangka bahwa proses yang ia bayangkan rumit justru terasa dimudahkan satu demi satu.
Baginya, kemudahan itu bukan sekadar soal persyaratan atau angka cicilan. Kemudahan itu adalah kesempatan—kesempatan bagi perempuan seperti dirinya, yang hidup di pinggir kepastian, untuk tetap memiliki hak atas sebuah rumah. BTN seolah membuka pintu yang selama ini ia kira hanya bisa dilewati oleh orang-orang dengan penghasilan besar dan status tetap.
Cicilan tetap harus dibayar. Kadang berat, kadang membuatnya menghitung ulang semua pengeluaran. Tapi setiap kali rasa lelah datang, Sekar mengingat kembali titik terendah hidupnya—saat ia harus pergi dari rumah orang tuanya dengan kepala tertunduk dan masa depan yang buram. Dibandingkan hari-hari itu, cicilan terasa seperti perjuangan yang bermakna.
Dalam doanya, Sekar selalu menyelipkan rasa terima kasih. “Saya bersyukur karena di saat saya hampir menyerah, jalan tetap dibukakan,” katanya sembari menambahkan, semua itu terjadi karena ada lembaga perbankan yang melihat manusia bukan hanya dari besar kecilnya penghasilan, tetapi dari kemauan untuk bertanggung jawab dan berjuang.
“Saya tidak pernah menganggap rumah itu sebagai hadiah instan,” ujarnya. Ia tahu, rumah itu adalah hasil dari keberanian mengambil keputusan besar dalam hidup. Namun ia juga tahu, tanpa kemudahan yang ia rasakan, langkah itu mungkin tidak akan pernah terjadi.
Kini, meski hidupnya masih sederhana, Sekar berdiri lebih tegak. Ia tidak lagi merasa kecil di hadapan dunia. Ia adalah seorang ibu, seorang perempuan, seorang penyintas keadaan, yang pelan-pelan membangun hidupnya sendiri—berawal dari satu rumah, satu kesempatan, dan satu keberanian untuk percaya.
Pada akhirnya, Sekar memahami bahwa hidup tidak selalu memberinya jalan yang lurus dan mudah. Ia dipaksa berbelok, tersandung, bahkan jatuh di titik-titik yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia kehilangan pasangan, kehilangan rumah yang pernah ia tempati, dan kehilangan ibu yang menjadi satu-satunya tempat bersandar. Namun dari semua kehilangan itu, hidup justru mengajarkannya satu pelajaran paling berharga: keberanian untuk berdiri sendiri.
Rumah kecil yang kini ia tempati bukan sekadar bangunan dari semen dan bata. Rumah itu adalah simbol dari keputusan besar yang ia ambil saat hatinya hampir runtuh. Setiap cicilan yang ia bayarkan adalah bukti bahwa ia tidak menyerah pada keadaan. Setiap pagi yang ia lalui di rumah itu adalah pengingat bahwa perjuangan tidak selalu berakhir dengan kegagalan.
Sekar kini tahu, menjadi kuat bukan berarti tidak pernah merasa lelah. Menjadi kuat berarti tetap melangkah meski takut, tetap berusaha meski peluang tampak kecil. Ia bersyukur karena di tengah keterbatasannya sebagai pegawai honorer dan ibu tunggal, ia dipertemukan dengan kemudahan yang membuka jalan menuju kemandirian. Bank BTN bukan hanya memberinya akses pada sebuah rumah, tetapi juga mengembalikan keyakinannya bahwa masa depan masih bisa diperjuangkan. *