Oleh-oleh HADI ke 56 HIMMAH NW, Transformasi Itu Nyata?

Oleh-oleh HADI ke 56 HIMMAH NW, Transformasi Itu Nyata?

Oleh ; Hasanah Efendi

(Sekretaris Umum Pimpus HIMMAH NW)

Himpunan Mahasiswa Nahdlatul Wathan (HIMMAH NW) adalah salah satu Badan Otonom yang dimiliki organisasi Nahdlatul Wathan (NW). HIMMAH NW yang didirikan al-Magfurulah Maulanasyaikh Kiyai Hamzanwadi 56 tahun silam menjadi laboratorium pengkader kaum intelek Nahdlatul Wathan yang disiapkan menjadi calon pemimpin yang andal, berakhlaq dan militan.

Dalam perjalanannya, organisasi sayap NW di bidang pergerakan ini, terus bermetamorfosis menjadi sebuah perkumpulan yang berdikari, mandiri serta siap siaga dalam perubahan zaman dan tidak tertinggal.

HIMMAH NW telah berhasil berbenah di tengah gejolak dinamika sosial, ditengah banyaknya beredar berita-berita yang belum tentu benar alias hoax. HIMMAH NW mampu memfilter dan tidak tergerus dengan berita hoax tersebut.

HIMMAH NW harus tetap berpegang teguh pada nilai idealitas yang sudah ditanamkan oleh guru besar kita Maulanasyaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. HIMMAH NW harus menjaga orientasi pengkaderan, dan muru’ah organisasi NW sebagai organisasi induk. HIMMAH NW sebagai garda terdepan dalam memperjuangkan organisasi NW.

Kader HIMMAH NW harus meng upgrade diri sendiri, baik secara intelektual maupun dalam hal pola kaderisasi. Pola gerakan tentunya tetap pada prinsip trilogi perjuangan yakni, Yakin, Ikhlas, Istiqomah, dan selalu samikna wa athokna kepada pimpinan organisasi. Kader HIMMAH NW tidak boleh mengedepankan ego, apalagi sampai offside terhadap kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh organisasi.

Kader HIMMAH NW harus tetap kompak, bersatu, bergerak memajukan organisasi, agama, bangsa dan Negara dengan satu jargon ‘Transformasi Juang untuk Indonesia Maju’.

Transformasi itu harus nyata dan diaktualisasikan oleh seluruh kader HIMMAH NW, baik transformasi pemikiran, pergerakan, sudut pandang, nilai-nilai, budaya dan transformasi kaderisasi sesuai dengan dogma Nahdlatul Wathan dalam bingkai Islam Ahlussunah wal Jamaah.

Transformasi Pemikiran. Dalam hal ini, kader HIMMAH NW, harus terus menguprade pola berpikir kritis, realistis dan adaptis dengan tidak abai terhadap kultur organisasi NW yang telah ditetapkan pendirinya. Tidak ada yang melarang kita berpikir kritis, namun harus mampu menjaga etika dalam menyampaikan sebuah kritikan, dan tetap humanis .

Transformasi Pergerakan. Sebagian gerakan masyarakat sipil tau mahasiswa masih menerapkan model gerakan sebelum reformasi. Padahal, sudah banyak faktor berubah. Masyarakat sipil dan mahasiswa perlu beradaptasi dengan perubahan dan memperkuat narasi yang digaungkan terlebih di era digilisasi yang merajalela. Pada posisi ini, kader HIMMAH NW harus memperkuat narasi isu agar lebih relevan dengan publik, HIMMAH NW juga perlu mengevaluasi gerakan agar sesuai dengan tantangan terkini, tidak monoton, akan tetapi terus memasang mata dan telinga, melihat dan mendengar realita sosial.

Dengan banyaknya informasi yang kita kumpulkan di tengah masyarakat akan menjadikan kita mampu melihat secara obyektif dan proporsional semua realiatas masyarakat sehingga keputusan yang diambil dalam pergerakan tidak salah kaprah dan ambyar (hancur).

Transformasi nilai dan budaya. Indonesia adalah sebuah negara yang kaya akan beragam budaya. Keadaan geografis tersebut melahirkan keanekaragaman suku adat sebagai sebuah konsekuensi logis dari kekayaan pulau di Indonesia. Ragam suku membawa kenyataan bahwa kita memiliki macam-macam bentuk budaya dan kebudayaan.

Di samping itu, keanekaragaman merupakan kekayaan intelektual dan kultural sebagai bagian dari warisan budaya yang perludi lestarikan. Seiring dengan peningkatan teknologi dan transformasi budaya kearah kehidupan modern serta pengaruh globalisasi, warisan budaya dan nilai-nilai tradisional masyarakat adat tersebut menghadapi tantangan terhadap eksistensinya. Hal ini perlu dicermati kader HIMMAH NW karena warisan budaya dan nilai-nilai tradisional termasuk budaya dan tradisi di NW mengandung banyak kearifan lokal yang masih sangat relevan dengan kondisi saat ini.

Kader HIMMAH NW harus mampu mempertahankan, melestarikan dan bahkan dikembangkan lebih jauh lagi nilai-nilai dan budaya yang ada termasuk dalam kultur Nahdlatul Wathan, bukan malah mendegradasi nilai dan budaya itu sendiri dengan alibi sudah usang dan kolot.

Transformasi Pengkaderan, juga harus mampu mengikuti perkembangan pola pengkaderan yang terkini, inovatif dan relevan dengan zaman. Pengkaderan tidak hanya pada tataran teoritik tapi juga secara aplikatif yang bisa mengembangan pola pikir mahasiswa yang terbaru, namun tetap memberikan tempat pada kultur pola pengkaderan dasar HIMMAH NW yang digariskan PBNW dan pendiri HIMMAH NW.

Pada momen HADI ke 56 HIMMAH NW, Ketua Umum PBNW TGKH. Muhammad Zainuddin Atsani dalam arahannya, mengingatkan kader-kader muda NW harus selalu samikna wa athokna kepada pimpinan organisasi dan berpegang teguh pada wasiat pendirinya dengan prinsip Yakin, Ikhlas, Istiqomah.

HIMMAH NW harus mampu merawat dan menjaga gerakan-gerakannya dalam diskusi-diskusi ilmiah untuk mengasah intelektualnya, jangan sampai ternodai dengan hal-hal yang dapat merusak perjuangan.

Alumni dan kader HIMMAH NW bersama-sama membangun daerah, bangsa dan negara melalui organisasi NW, jangan sampai menjadi penghambat apalagi sebagai perusak organisasi.

Akhirnya Saya ucapkan Selamat Hari Jadi (HADI) HIMMAH ke 56 NW tanggal 5 Juni 2022 yang digelar di Pelataran Masjid Nurul Bilad Mandalika Loteng. Semoga tetap jaya dan terus bertransformasi menuju kemajuan bersama.(*)

Bagikan Berita

Share this post