PROF. DR. H. FAHRURROZI DAHLAN. QH.
Masya Allah Tabarakallah.
Tema Hari Pahlawan tahun ini sangatlah tepat,Pahlawanku-Teladanku. Tema ini sangat dalam makna dan spiritnya di mana setiap pahlawan memiliki ciri khas dan keistimewaan sendiri-sendiri, taruhlah seperti pahlawan kemerdekaan, pahlawan revolusi, pahlawan nasional, dan berbagai jenis pahlawan yang memiliki jasa yang besar terhadap negara dan bangsa, bahkan sampai pahlawan tanpa tanda jasa tetap memberikan kontribusi yang fungsional dan progresif untuk kemajuan anak bangsa.
Pahlawanku adalah teladanku memang harus terus digelorakan dalam setiap momentum dan waktu, agar nilai-nilai luhur sang pahlawan kusuma bangsa tetap terpatri dalam sanubari anak bangsa. Pahlawan adalah simbol manusia yang tak kenal lelah dalam berjuang, tak kenal mundur sebelum sukses, tak kenal pasrah sebelum tuntas ikhtiar yang dilakoninya.
Maka pantaslah Pahlawanku adalah tauladanku.
Sang Pahlawanku- Sang Maulanassyaikh.
Izinkan daku untuk mengurai siapa sesungguhnya sosok teladanku, sosok teladan kami, sosok teladan kita semua. Izinkan dengan penuh keikhlasan bagi yang belum merasakan kehadiran Maulanassyaikh di hatinya, mungkin karena satu dan lain hal dalam kehidupan dirinya.
Sekali lagi izinkan al-Faqier yang kurang lebih 4 tahun mengaji secara formal di hadapan Sang Pahlawan Sang Teladan, Sang Maulanassyaikh sehingga dapatlah memetik langsung butiran-butiran hikmah keilmuan, keberkahan, kebijaksanaan, kearifan, dan ketulusan dari sang Maulanassyaikh.
Pahlawanku adalah Teladanku.
Kata teladan memiliki dimensi Makna yang sangat Universal. Universalitas makna teladan itu tercermin dalam tiga Karakter utama. 1).Karakter berpikir yang kuat dan inovatif, 2).Karakter tingkah laku yang Fungsional dan harmonis [انفعهم للناس]. 3). Karakter spiritualitas yang konsistent dan komitment.
Dengan demikian, Teladan dapat dimaknai seperti yang tercantum dalam al_Qur’an dengan istilah الأسوة و القدوة.
Teladan adalah al_ Uswah bagaikan Nabi dijadikan sebagai Role Model dalam segala aspek kehidupan. Pahlawan juga sebagai sosok Uswah atau role model bagi segenap anak bangsa dalam Setiap gerak- gerik kehidupannya.
Pahlawan adalah al-Qudwah, sang panutan, sang ikutan yang selalu ditiru, diguru, dituju, dalam segala ucapan, perbuatan dan tindakan.
Intinya, SANG PAHLAWAN ADALAH SANG USWAH DAN SANG QUDWAH HASANAH.
Untuk mengurai uswah dan qudwah sang maulanassyaikh TGKH.M. Zainuddin Abdul Madjid Al-Masyhur. dapat dipotret dalam tigaKeteladanan utama.
Pertama: Keteladanan Kepemimpinan.
Sang maulana menginspirasi Kita semua tentang Keteladanan dalam kepemimpinan. Kepemimpinan ala Maulanassyaikh memberikan gambaran bahwa menjadi pemimpin ummat harus memiliki Karakter kepemimpinan yang kuat dan dinamis. Dapat dibayangkan bagaimana Maulanassyaikh memimpin peperangan melawan penjajahan Belanda, mengatur Siasat melawan tentara Jepang, memimpin Kaum Sasak untuk Maju Bersama,menempa Ummat dengan Kepemimpinan yang tidak gampang pada masa sulit. Di sinilah terlihat Keteladanan sang Pahlawan dalam aspek Kepemimpinan.
Kepemimpinan sang Maulana tercermin ungkapan Beliau:
Negara kita ber pancasila.
Beratuhanan yang Maha Esa.
Ummat Islam Paling setia.
Tegakkan Sila yang Paling utama.[WRM. 44].
Hidupkan Iman hidupkan Takwa.
Agar hiduplah semua jiwa.
Cinta teguh pada Agama.
Cinta kokoh pada Negara.[WRM:68].
Manusia Ikhlas ada tandanya.
Tetap berjuang dengan setia
Dimana saja mereka berada.
Tidak tergantung Jadi pemuka.[WRS.117].
Selaras dengan pandangan dan pendapat tentang kepemimpinan dari salah seorang tokoh yang saat ini giat dan terus menerus menebarkan Islam dan kedamaian sosial Beliau adalah KH.Imam Shamsi Ali. Beliau menjelaskan secara apik tentang kepemimpinan.
Dari berbagai karakter dunia global itu, ambillah misalnya tiga hal yang sering disampaikan di mana-mana. Satu, berkarakter universal. Islam juga adalah ajaran universal (Rahmatan lil-alamin/hudan linnaas/Rabbal ‘alamin_, dst). Dua, berkarakter cepat yang ditandai oleh kecepatan transportasi dan informasi. Islam itu berkarakter “kecepatan” (dan bergegaslah kepada ampunan Tuhanmu dan syurga).
Tiga, dan ini yang terpenting untuk menjadi catatan Umat kali ini. Yaitu bahwa dunia global ditandai oleh keterikatan tapi sekaligus kompetisi yang tinggi (interconnectedness and high competition). Ternyata dari dulu Islam telah mengingatkan itu. Ayat-ayat yang memerintahkan berlomba-lomba seperti “dan berlomba-lombalah kalian dalam kebaikan” itu mengindikasikan keduanya.
Bahwa di satu sisi manusia itu saling terikat/tergantung, namun juga berkarakter kompetitif. Dan karenanya kompetisi dalam Islam itu bersifat “saling tergantung” (mutual in nature). Perhatikan kata: فاستبقوا (dan saling berlombalah kalian). Kata ini mengindikasikan kompetisi tapi dalam semangat kebersamaan. Berkompetisi tidak harus diartikan menjatuhkan, apalagi dengan ragam manipulasi dan ketidakjujuran.
Kepemimpinan yang efektif itu minimal memiliki 10 karakter yang mendasar. Kesepuluh itu adalah kejujuran (honesty), kemampuan mendelegasikan (ability to delegate), komunikasi (communication) ada rasa humor (sense of humor), percaya diri (confidence) komitmen (commitment), karakter positif (positive attitude) kreatifitas (creativity, saya lebih suka menyebut inovatif), kemampuan menginspirasi (ability to inspire), dan intuisi (intuition).
Keseluruhan karakter itu sebenarnya tersimpulkan secara sederhana dalam sebuah ayat Al-Quran di Surah As-Sajadah ayat 24:
وَ جَعَلْنَا مِنْهُمْ اَئِمَّةً يَّهْدُوْنَ بِاَ مْرِنَا لَمَّا صَبَرُوْا ۗ وَكَا نُوْا بِاٰ يٰتِنَا يُوْقِنُوْنَ
“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar. Mereka meyakini ayat-ayat Kami.”
Secara global ada tiga kesimpulan penting dari Karakter kepemimpinan atau Pemimpin dalam pandangan Islam.
Pertama, “yahduuna bi amrina” (memberikan petunjuk dengan perintah Kami (Allah). Makna dari potongan ayat ini adalah bahwa Pemimpin ideal itu adalah yang paham petunjuk Allah, sehingga mampu memberikan perintah, instruksi, atau kebijakan secara umum “bi amrina” (dengan atau sesuai perintah/ajaran Allah SWT). Masalahnya kemudian ketika Pemimpin itu tidak paham ajaran Allah, apalagi memang anti atau phobia dengan ajaran itu. Atau boleh jadi paham tapi tidak peduli bahkan juga anti dan phobia dengan petunjuk/ajaran Allah.
Kedua, “lamma shobaru” (seraya bersabar). Hal ini dipahami bahwa memberikan petunjuk/kebijakan yang sesuai perintah Allah itu tidak mudah. Penuh tantangan dan pastinya memerlukan “mental yang solid”. Sabar itu adalah “a state of mentality” (keadaan mental) yang membaja di hadapan tantangan dan/atau sebaliknya godaan. Pemimpin yang sabar tidak mudah patah semangat karena tantangan yang ada. Tapi juga tidak mudah terjatuh ke dalam jebakan godaan.
Ketiga, “bi ayaatina yuuqinun” (yakin dengan ayatKu/tanda-tanda kekuasanKu). Keyakinan itu menghasilkan ketetapan hati. Ketetapan hati itu yang sederhananya disebut “self confidence”_ (percaya diri). Pemimpin yang diharapkan dalam pandangan Islam adalah yang tidak mudah diintimidasi oleh keadaan apapun. Pemimpin Islam itu punya “izzah” (rasa mulia) dan tidak minder di hadapan kekuatan apapun.
Merujuk kepada sepuluh karakter kepemimpinan tadi yang tersimpulkan secara gamblang dalam ayat Al-Quran itu, tentu implikasi teknisnya ada pada wawasan yang luas (broaden mindset), berintegritas tinggi (punya karakter dan akhlak), serta berkapabilitas termasuk inovatif/kreatif dan memiliki kemampuan komunikasi yang tinggi. [Saya kutip dari laman WA grup GB PTKIN, Syamsi Ali].
KEDUA. KETELADANAN KEILMUAN DAN KEINTELEKTUALAN.
Sang Maulanassyaikh, sosok ulama’ yang kreatif dan produktif, karya intelektualitas sang Maulana telah menginspirasi semua kalangan dalam aspek keilmuan dimana Sang Maulana mencoba meramu sisi-sisi Kehidupan anak bangsa dengan pendekatan Normatif, Sosiologis, Psikologis dan lain-lain. sehingga dapat diterima oleh Komunitas masyarakat anak bangsa. Inilah yang patut menjadi teladan kita dalam aspek keilmuan dan Ke intelektualitasan.
Maulanasyaikh berpesan:
Tuntutlah Ilmu sebanyak mungkin.
Sampai mendapat gelar muflihin.
Gelar dunia Perlu dijalin.
Dengan Ajaran Rabbul alamin. [WRM. 185].
Jaga baiklah gelar ananda.
Agar Ananda Jangan tergoda.
Pergunakan terus selama_lamanya.
Untuk agama untuk Negara [ WRM: 187 ].
Keteladanan sang Maulana dari aspek keilmuan dan keutamaan patut menjadi inspirasi semua generasi. Keilmuan yang tak pernah sunyi dari ingatan keilmuan yang abali sepanjang ritme dan zaman. Maka Pantaslah Pahlawanku Teladanku.
Ayahanda Tabligh di malam Sunyi.
Hadapi Lautan Makhluk insani.
Santri semua yang pernah mengaji dan
mengkaji. Keteladanan Keilmuan yang terus membekas dalam relung hati para pencinta Ilmu dan Pencinta Ulama’. keteladanan Keilmuan yang mewariskan obsesi dan Prestasi untuk seluruh anak Negeri. Keleladan Agar tersebut ajaran ilahi di Nusantara dan Luar Negeri [WRM: 218].
Ketiga: KETELADANAN MORALITAS DAN SPRITUALITAS.
Coba kita perhatikan ungkapan wasiat Sang Maulana dalam Karya beliau:
Setiap ujian banyak yang lulus.
dan ada juga yang nyata lilus
Memang begitu Hikmatul Quddus.
Untuk mencapai hasil yang bagus [ WRM: 2].
Yang nyata Lulus aku Syukurkan.
Yang Masih lilus aku doakan.
Semoga Allah Menghidayahkan.
Kembali Ikhlas Ke-Nahdlatul Wathan. [WRM: 3].
Sang Pahlawan adalah Sang Moralis, Sang Spritualis.
Moralitas Sang Pahlawan adalah moralitas Sang
Nabi, sebab sang ulama’ adalah pelanjut estapeta keilmuan dan Keberkahan Para Nabi.
[العلمآء ورثة الانبياء فان الانياء لم يورثوا دينارا ولا درهما انما ورثوا العلم والعمل. او كما قال عليه الصلاة والسلام]
Sang Pahlawanku adalah sang moralis yang selalu menyejukkan kala kepanasan, selalu melegakan saat kehausan, selalu membenarkan dalam segala tindakan Kemuliaan, selalu menjadi panutan dalam menghadapi segala macam rintangan dan cobaan kehidupan.
Sang Maulana sosok anak Bangsa yang telah berkontribusi yang luhur untuk anak Negeri ini. peran dan Kontribusi beliau mencerminkan akhlak dan moralitas sang Maulana dalam membaca zaman. Aklak yang mulia yang beliau contohkan Kepada semua santri, kepada masyarakat Sasak, Masyarakat NTB, bahkan masyarakat Nasional bahkan global. Inilah Moralitas dan Spiritualitas sang Pahlawanku Sang Teladan ku.
Akhirnya, Mari kita semua Meletakkan posisi Sang Pahlawan sebagai Pahlawan yang sejatinya dan sesungguhnya. Pahlawan yang telah banyak berjasa untuk anak Negeri, Pahlawan yang tak Pernah mau dihargai hasil dan dedikasinya Karena semata_mata Mengharap Ridho Ilahi, Pahlawan yang tak pernah mengikat diri dengan etnis, kesukuan, Keorganisasian dirinya, Namun sang pahlawan berpikir jauh untuk semua kalangan anak Negeri. sang pahlawan tak pernah berpikir untuk kepentingan dirinya Sendiri, tapi jauh kedepan memikirkan kemaslahatan anak Negeri.
sang Pahlawan yang tak pernah penaik dengan Kaumnya sendiri, tapisangat Fanatik dengan NKRI dan Bangsanya sendiri.
sang Pahlawan Yang selalu menggelora semangat Kebangsaan dalam setiap tutur kata dan tindakan budi pekerti yang telah menyentuh hati Sanubari arah Negeri. Sang Pahlawan yang tak Permas Lupa akan kebaikan dan kedamaian seluruh insani.
ITULAH PAHLAWANKU TELADANKU; SANG MAULANA.
SELAMAT MERAYAKAN HARI PAHLAWAN TAHUN 2022.
Jakarta, Kamis, 10 November 2022
[ Murid Sang Maulana, Sekjend PBNW, Khodim Pascasarjana UIN Mataram).