Pesan Kebangsaan Pahlawan Nasional Asal NTB (Maulanasyaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid)

Pesan Kebangsaan Pahlawan Nasional Asal NTB (Maulanasyaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid)

Penulis;  Hasanah Efendi (Ketua Pimpinan Wilayah  Pemuda NW NTB)

Maulana Syaikh Tuan Guru Kiyai Haji (TGKH) Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, adalah tokoh  pertama  dari putra asli Nusa Tenggara Barat (NTB), yang dinobatkan menjadi Pahlawan Nasional oleh Negara pada tahun 2017 lalu. Sebagai tokoh sentral dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, tentu memiliki pesan moral dan kebangsaan yang diwariskan kepada generasi pelanjut. Beliau memiliki pesan kebangsaan yang sangat kuat, yang berfokus pada pentingnya iman dan taqwa untuk membangun kecintaan terhadap tanah air serta kesetiaan terhadap Pancasila dan NKRI.

Beberapa pesan kebangsaan utama yang dapat diambil dari perjuangan beliau antara lain:

1. Menghidupkan Iman dan Taqwa untuk Cinta Tanah Air: Beliau menekankan bahwa landasan utama dalam membangun bangsa dan negara adalah keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang secara langsung akan memupuk rasa cinta terhadap tanah air (Hubbul Wathon minal Iman). Hal ini bisa kita lihat dari yel-yel organisasi yang didirinnya yakni, Nahdlatul Wathan (NW) “ Pokoknya NW. Pokok NW Iman dan Taqwa” Kalimat ini menunjukan betapa beliau sangat menjunjung tinggi nilai ke imanan dan ketaqwaan itu sehingga tiap tarikan napas dan pergerakan NW selalu bermuara pada iman dan taqwa.

Dalam Wasiat Renungan Masa yang dikarangnya juga banyak berbicara iman dan taqwa, diantara bait syair wasiat itu berbunyi,

“NW alat penegak iman. Penegak taqwa ajaran Tuhan. Bukan alat mencari makan. Mencari kursi melelang iman”

Wahai ananda hidupkan taqwa. Matikan syaitan matikan hawa. Karena taqwa pembuka syurga. Syaitan dan hawa pintu neraka”

2. Kesetiaan pada Pancasila dan NKRI: TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dikenal sebagai sosok “Muslim Pancasilais Sejati” yang gigih mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Hal ini kita bisa lihat dengan penamaan organisasi yaitu Nahdlatul Wathan (NW) yang artinya kebangkitan tanah air. Beliau tidak menamakan organisasi  yang didirikannya dengan nama yang identik dengan Islam, namun, nama yang diambil adalah nama yang bernuasa nasionalis.

Seperti ucapan Beliau dalam sebuah pidato pada acara Tatap Muka Para Ulama dan Warga Pondok Pesantren Darunnahdlatain NW Pancor dengan Bapak Sudarmono SH, Ketua Umum DPP Golkar tanggal 16 Sya’ban 1406 H/26 April 1986 M dalam salah satu paragraf pidatonya yang berbunyi;

“Saya sering jelaskan dalam berbagai kesempatan bahwa saya bersama keluarga NW tetap tegak tidak pernah goyah berpegang teguh pada kebaikan-kebaikan, kesucian-kesucian dan keluhuran-keluhuran ajaran Agama Islam, karena saya sadar nbahwa saya adalah orang muslim/ummat Isla; serta saya tetap setia, taat dan patuh kepada semua ketentuan-ketentuan hokum yang sah yang berlaku dalam nehgara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.”

Hal tersebut juga bisa kita lihat di bait  syair Wasiat Renungan Masa yang dikarangnya yang berbunyi;

“Negara kita berpancasila. Berketuhanan Yang Maha Esa. Ummat Islam paling setia. Tegakkan sila yang paling utama”

3. Pentingnya Pendidikan dan Dakwah: Perjuangannya diwujudkan melalui pendirian madrasah dan organisasi Nahdlatul Wathan (NW) untuk menyebarkan gagasan pendidikan, dakwah, dan nasionalisme, menunjukkan keyakinannya bahwa pendidikan adalah kunci kemajuan bangsa. Sejak kepulangan Beliau dari Tanah Suci Mekkah langsung membangun pesantren al-Mujahidin sebagai cikal bakal berdirinya, Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyiah Islamiyah (NWDI) dan Madrasah Nahdlatul Banat Diniyiah Islamiyah (NBDI). Hingga saat ini tercatat ribuan lembaga pendidikan NW dan majlis taklim yang tersebar di seluruh pelosok Nusantara. Hal diatas juga tercantum dalam bait syair Wasiat Renungan Masa yang berbunyi ;

“Buka madrasah desa dan dasan. Agar Tersebar ajaran Tuhan. Ikatan Pelajar PG aktifkan Himmah Pemuda terus tonjolkan”

4. Persatuan dan Semangat Kebersamaan: Pesan-pesan beliau juga menginspirasi tentang pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa, jauh dari perpecahan, dan mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau golongan.

Beliau selalu menggaungkan tentang keteguhan dalam berbangsa dan bernegara. Ia tidak rela bangsanya diabaikan, seperti ucapan Beliau dalam sebuah pidato pada acara Tatap Muka Para Ulama dan Warga Pondok Pesantren Darunnahdlatain NW Pancor dengan Bapak Sudarmono SH, Ketua Umum DPP Golkar tanggal 16 Sya’ban 1406 H/26 April 1986 M dalam salah satu paragraf pidatonya yang berbunyi;

“Usia saya telah senja, matahari tetap terbit dari timur, dunia tetap berputar, saya tidak rela kemerdekaan yang kita tebus dengan lautan darah itu, kita sia-siakan, tetapi kita harus bangun, sekali lagi kita harus bangun, menurut kemampuan dan profesi kita masing-masing, sehingga meratalah kemakmuaran dan keadalian di seluruh persada tanah air tercinta ini”

 Dalam tulisan wartawan Koran Jayakarta terbitan tanggal 5 Agustus 1988, Beliau berucap ;

“Usia saya sudah senja, akan tetapi saya ingin seperti matahari yang senantiasa berputar dari timur ke barat, bukan saja dalam waktu 24 jam, telah berjuta-juta tahun kurun dan zaman tidak pernah terlambat biar satu menitpun.”

 5. Perjuangan Melawan Penjajahan: Melalui dakwah dan tindakannya, beliau secara nyata menunjukkan perlawanan terhadap penjajahan, bahkan dengan risiko dikucilkan demi menegakkan prinsip kebangsaan.

Dalam sebuah pidato pada acara Tatap Muka Para Ulama dan Warga Pondok Pesantren Darunnahdlatain NW Pancor dengan Bapak Sudarmono SH, Ketua Umum DPP Golkar tanggal 16 Sya’ban 1406 H/26 April 1986 M dalam salah satu paragraf pidatonya yang berbunyi;

“Setelah NWDI dan NBDI berjlan stabil, kami menghadapi maslah baru, yaitu kita harus mengusir penjajah Belanda dari Bumi Selaparang khususnya dan Indonesia umumnya. Dan madrasah NWDI pada waktu itu jadi markas perjuangan, tempat para pahlawaan berunding dan merencanakan siasat penyerbuan terhadap tangsi militer NICA/Belanda di Selong, yang dipimpin oleh adik kandung saya sendiri, almarhum H Muh. Faesal Abdul Mdjid bersama kakanya Ahmad Rifa’i Abdul Madjid, serta para santri lainnya, seperti Sayyid M Saleh, Abdullah dan lain-lain. Mereka gugur sebagai syuhada’ dan menciptakan Taman Makam Pahlawan Rinjani Selong sampai saat ini. Sedangkan adik saya H Ahmad Rifai Abdul Madjid dan murid saya H Muh. Yusi Muhsin Kelayu mendapat hukuman penjara selama 12 tahun dan dibuang ke Ambon Maluku.”

Pesan kebangsaan dari Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, adalah teladan nyata tentang bagaimana nilai-nilai religius dan nasionalisme dapat bersatu padu dalam semangat perjuangan untuk kemerdekaan dan keutuhan bangsa Indonesia. Beliau tidak memisahkan antara agama dan negara, namun beliau menjadikannya menjadi satu kesatuan yang saling menguatkan dan mengokohkan pondasi kebangsaan dan keagamaan. (*)

 

Bagikan Berita

Share this post