Lombok Barat suararinjani.com – Wabup Lobar Hj. Sumiatun membuka Sosialisasi Bahan Dasar Ajar pencegahan HIV/AIDS bagi Kepala Sekolah, Guru Didik, Satuan Pendidikan dan Guru Madrasah Negeri di Kabupaten Lombok Barat, Kamis (22/06) lalu.
Kegiatan Sosialisasi ini dihadiri Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lobar, Staff Ahli Bupati, Sekretaris KPA Provinsi dan Kab.Lobar, Kepala Sekolah dan Kepala Madrasah Negeri se- Lobar.
Wakil Bupati Hj. Sumiatun dalam sambutannya menyampaikan bahwa Pemda Lombok Barat sudah luncurkan Buku Bahan Ajar Pencegahan HIV/-AIDS pada Sekolah non formal maupun non formal secara menyeluruh untuk Negeri dan Swasta se-Lombok Barat. Buku ini dirasa efektif untuk bahan edukasi tentang bahaya HIV-AIDS.
Sebagaimana diketahui, HIV adalah virus yang menyebabkan infeksi. Sedangkan AIDS adalah kondisi atau sindrom. Terinfeksi HIV bisa membuat seseorang mengalami AIDS. AIDS terjadi ketika HIV menyebabkan kerusakan serius pada sistem imun.
“Berdasarkan Data KPAK Lombok Barat 2021, terdapat 255 kasus HIV dan AIDS 168 Kasus. Total Kasus HIV/AIDS Tahun 2021 sebanyak 423 Kasus. Tahun 2022 terdapat 276 kasus HIV dan 183 Kasus AIDS. Total Kasus HIV/AIDS Tahun 2022 sebanyak 459 Kasus,” ungkapnya.
Penanganan HIV kata Sumiatun, termasuk dalam satu standar pelayanan minimal di bidang kesehatan. Artinya tugas ini tidak hanya melekat pada tupoksi Dinas Kesehatan tetapi menjadi tanggung jawab kita bersama karena terkait dengan prilaku.
Sebagai contoh, Dinas Dikbud mengajarkan sejak dini berperilaku sehat dan berbudi pekerti yang baik. Salah satu sarana itu adalah melalui buku ajar yang belum lama ini diluncurkan.
“Buku ini sebagai bukti kepedulian terhadap lingkungan kita, generasi muda kita, anak-anak kita yang kadang berprilaku yang potensial terkena HIV/AIDS. Artinya, pencegahan dari sejak dini itu harus kita lakukan karena ketika sudah terkena dan masuk ke tahap pengobatan adalah jauh lebih sulit,” katanya.
Cara penanggulangan HIV/AIDS adalah S T O P yaitu Suluh, Temukan, Obati, dan Pertahankan pengobatannya. Dengan kebersamaan, dengan sinergitas dan gerak bersama, maka saya yakin apa yang menjadi target 2030 sebagaimana tertuang dalam peta jalan pengendalian HIV/AIDS, yaitu menuju THREE ZERO di tahun 2030 bisa terwujud, sambungnya.
AIDS itu tidak menular hanya dengan berbicara dengan penderitanya, tetapi melalui hal-hal lain, seperti seks bebas, penggunaan jarum suntik dan hal-hal negatif lainnya.
“Hilangkan stigma untuk menjauhi penderita, yang harus kita jauhi itu virusnya, bukan orangnya. Penderita HIV/AIDS harus kita rangkul agar mereka tertangani dengan baik, tidak depresi dan melakukan tindakan yang frontal,” ujarnya.
Dikatakan, orangtua bisa menguatkan karakter anak dengan cara pendidikan keagamaan. Kuatkan pendidikan karakter anak-anak sedini mungkin dengan nilai-nilai agama. Sekarang anak-anak dua tahun sudah pegang handpone, kalau tidak sampai diawasi, maka ini bisa membahayakan.
Kasus HIV-AIDS yang banyak terkena adalah anak muda termasuk pelajar. Hal ini menjadi catatan penting, terutama pihak keluarga untuk melakukan pengawasan terhadap anak-anak agar tidak terjun dalam dunia bebas,” ingatnya.
“Saya mengharapkan sosialisasi ini akan menjadi pedoman bagaimana buku ini bisa menjadi sarana untuk pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS menuju THREE ZERO sebelum tahun 2030,” tutupnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Barat H. Nasrun menyampaikan Penerapan kurikulum HIV/Aids untuk sekolah dari tingkat Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Negeri yang rencananya akan diujicobakan pada tahun ajaran baru 2023 membutuhkan kompetensi dan kesiapan dari guru yang akan memberikan materi pelajaran.
“Guru yang memiliki kompetensi dan pengetahuan tentang HIV/Aids masih minim. Karenanya, sebelum memberikan materi tentang HIV/Aids, mereka memperoleh pelatihan terlebih dulu sehingga bisa menyampaikan materi dengan benar,” jelasnya. (W@N)
Edukasi Bahaya HIV-AIDS, Pemda Lobar Luncurkan Buku Edukasi