Jelang Idul Fitri, Diskeswan Lotim Ingatkan Warga Hati-hari Beli Daging

Jelang Idul Fitri, Diskeswan Lotim Ingatkan Warga Hati-hari Beli Daging

Lombok Timur suararinjani.com – Maraknya penjualan daging beku di pasaran disoroti Disnakeswan Lotim. Peredaran daging beku sering dicampur daging segar dengan tujuan agar harga beli konsumen bisa terjangkau.

Melihat kondisi ini, Disnakeswan Lotim melalui, Bidang Kesehatan Hewan dan Masyarakat Veteriner (Mavet) angkat bicara. Jika masyarakat selaku konsumen ingin membeli daging, maka harus pintar memilih agar mengenal mana yang dicampur, mana yang daging beku tapi sudah diencerkan dan mana yang daging segar.

“Kalau daging segar dijual dalam bentuk segar, kalau tidak habis disimpan dalam bentuk frizer. Kalau daging beku dijual dalam bentuk beku, tapi kalau dibuka dan dibiarkan dalam waktu yang lama tentu kurang baik untuk kesehatan,” ungkap Kabid Keswan dan Mavet Disnakeswan Lotim, drh.Hultatang, pada Rabu (03/04) lalu.

Mengingat  lanjut Hultatang, daging apapun kalau terlalu lama di pajang akan menyebabkan datangnya Bakteri mikroba sehingga menjadikan bau busuk daging tersebut dan warnanya yang segar kemerahan akan berubah hitam.

“Sementara jika berbicara daging beku, harus disimpan di dalam cool storied dengan suhu dingin tertentu kemudian dijual dalam porsi dan kondisi beku,” jelasnya.

Masih kata Hultatang, jika daging beku masuk ke pasar becek atau pasar tradisional dianggap tidak layak karena di pasar-pasar tradisional tidak menyiapkan fasilitas pending atau cool storied. Sehingga lebih pas dan layak dijual di supermarket atau toko toko besar yang menyiapkan fasilitas rantai dingin.

“Seharusnya yang menyiapkan cool storied atau frizer seperti mini market, mini mall, toko – toko sualayan,” imbuhnya.

Terkait campuran daging beku dan daging segar, pihaknya mengakui berdasarkan pengalaman temuan ditahun tahun sebelumnya biasanya disandingkan dengan dagings. Kemudian daging segar dan daging beku dicampur dengan tujuan harganya bisa dijangkau konsumen dengan ekonomi pas pasan.

Ia menambahkan jika daging beku di encerkan lalu dijual di pasar becek atau pasar tradisional maka daging tersebut harus segera diproses atau diolah. Agar tidak mendatangkan cemaran bakteri mikroba yang tinggi hingga merubah warna dan mendatangkan bau busuk yang bisa menyebabkan datangnya penyakit.

“Daging beku biasanya didiamkan dalam waktu yang lama, begitu dibuka dan diecer maka akan terjadi kontaminasi udara. Sehingga daging beku tersebut akan berubah warna menjadi gelap yang kadang sampai warna hijau, itu tentu kurang baik untuk kesehatan,”urainya.

Sementara, untuk daging oplosan yakni percampuran antara daging sapi dan daging selain sapi seperti babi dan sejenisnya. Namun, guna mengenali daging oplosan, bisa dilihat dari warna dan serat atau pori-pori pada daging. Serta bau daging akan berbeda, jika bau sapi dia lebih khas dan tidak amis sedangkan bau babi agak amis mendekati bau Ikan.

Terakhir Disnakeswan mengimbau kepada masyarakat selaku konsumen untuk cerdas memilih daging. Meskipun kondisi keuangan sekiranya tidak mencukupi, pihaknya mengatakan tidak mengapa membeli yang sudah di campur namun haru segera di olah dan diperhatikan tingkat ke higenisan nya.

Masyarakat lebih cerdas, mereka tau mana daging segar dan mana daging beku. Kalau  dagingnya seperti batu, berair atau dingin tentu tidak segar.Tapi kalau daging segar hangatnya terasa.

“Kami dari Disnakeswan mengajak kepada masyarakat kalau mau beli daging beku, belilah dalam bentuk yang masih benar benar beku itu lebih baik, dan kalau mau beli daging segar pilihlah yang masih hangat, tidak berair dan dagingnya elastis,” pungkasnya. (Yat)

Bagikan Berita

Share this post