Lombok Timur, suararinjani.com – Target vaksinasi untuk mencapai estimasi dari target 162.000 hewan jenis sapi, kerbau yang rentan penyakit tercapai. Sekitar 80 persen dari jumlah tersebut atau sekitar 130. 000 hewan ternak sudah divaksinasi. Estimasi itu dilihat dari pengurangan populasi akibat tidak adanya droping sapi dari sumbawa dan banyaknya sapi yang di potong saat Hari Raya Korban tahun 2022 ini.
Sehingga, jika dilihat dari segi penularan wabah, dari angka yang sudah divaksinasi dapat dipastikan laporan wabah PMK khususnya di Lombok Timur bisa dicabut. Hasil itu berdasar pada penyisiran dan pendataan yang dilakukan Petugas Keswan disemua kandang Kolektif.
Kepala Bidang (Kabid) Keswan dan Masyarakat Veteriner Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lotim, drh. Hultatang saat ditemui diruangannya Selasa,(06/12/2022) lalu mengatakan, meski jumlah capaian vaksinasi ternak di Lotim terbilang cukup baik. Namun, pihaknya meminta kerjasama yang baik bagi para Petugas Keswan dan Peternak agar visi menghilangkan wabah PMK di Kabaten Lombok Timur melalui vaksinasi tahap satu, dua dan Booster bisa berjalan sesuai rencana.
“Tahun depan vaksinasi kita tetap lanjut, tahap satu dan dua bagi sapi yang belum dan selanjutnya vaksin Booster. Tapi kunci keberhasilan kita adalah kesamaan pandangan terkait vaksin itu sendiri,” ungkapnya.
drh. Hultatang juga memastikan bahwa vaksin ternak masih tersedia di setiap Puskeswan di masing – masing Kecamatan. Berdasarkan data Disnakeswan, sebanyak 107.000 hewan yang di vaksin adalah ternak yang ada di semua kandang Kolektif atau sekitar 83 persen. Sisanya petugas keswan yang melakukan Vaksinasi masih intens keliling door to door. Mengingat banyak juga terdapat hawan ternak yang bunting dan baru melahirkan. Ditambah lagi adanya beberapa peternak yang belum paham sehingga belum bisa dilakukan vaksinasi.
“Posisi sampai dengan saat ini stok vaksin yang tersedia adalah sebanyak 5.400 tersebar di semua Puskeswan yang ada di setiap kecamatan”
Sementara stok yang masih tersimpan di Disnakeswan tambah dia sebanyak 12.925 yang tadinya semua stok vaksin tersebut akan dihabiskan tahun ini. Namun karena adanya beberapa kendala seperti yang sudah dijelaskan diatas, maka sisa vaksin akan digunakan menyesuaikan dengan hasil input data terbaru petugas keswan yang ada dilapangan.
Ditambahkanya, keterlambatan proses vaksin disamping karena banyaknya hewan ternak yang bunting dan berusia masih muda juga disebabkan karena faktor jarak bagi para peternak yang individu atau Ternak dengan kandang pribadi.
Masih kata drh.Hultatang, dari 23.000 angka sakit hewan ternak dan 107 hewan ternak yang sudah di vaksin jika ditotalkan menjadi 130.000. Jika dilihat dari jumlah tersebut bisa dipastikan sudah tidak ada lagi sapi yang sakit. Artinya, tambah dia sudah terbentuk antibody spesifik pada sapi karena sudah di vaksin.
Hanya saja diakuinya permasalahan yang masih menjadi PR Disnakeswan adalah arus lalu lintas ternak, apakah sama penanganan vaksin yang dilakukan daerah lain di NTB atau tidak. Jika sama maka dapat dipastikan wabah PMK bisa dicabut. Sementara selama ini Mekanisme labeling belum berjalan atau masih belum di terapkan.
“Tingkat kesadaran para peternak juga menjadi poin utama, kami berharap ternak kita terbebas dari PMK. Jadi kami mohon kepada para ternak agar mau bersinergi dan membuka ruang bagi petugas kami yang melakukan vaksinasi”, tutupnya. (Yat)