Lombok Tengah, suararinjani.com – Diduga setelah mengkonsumsi susu gratis, puluhan murid Sekolah Dasar Negeri (SDN) 01 Darmaji dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Hidayatusholihin Kecamatan Kopang, Kabupaten Lombok Tengah (Kab.Loteng), Provinsi Nusa Tenggara Barat (Prov.NTB), mengalami keracunan, pada Sabtu (17/01/2026).
Susu yang dibagikan pada program Makanan Gizi Gratis (MBG) diduga expired atau kedaluwarsa, sehingga menjadi penyebab keracunan.
Kepala Desa Darmaji, Suhaedi yang dikonfirmasi membenarkan kejadian tersebut. Ia menjelaskan, kejadian tersebut terjadi sekitar pukul 09.00 Wita setelah anak-anak mengkonsumsi susu yang disalurkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat.
“Ya, terindikasi, karena mereka setelah minum susu yang menjadi paket MBG yang disalurkan oleh SPPG setempat,” ungkap Suhaedi.
Sejauh ini, korban yang terdeteksi telah mencapai 38 siswa dari dua sekolah. Mereka saat ini telah dirawat di Puskesmas Muncan dan Puskesmas Pengadang. Rata-rata dari mereka mengalami keluhan muntah-muntah, pusing, mual hingga mencret.
“Saya besar kecurigaannya karena mereka setelah minum susu kemudian secara masif mual, mencret, dan ada juga yang diinfus,” terangnya.
Dimana diduga pihaknya, susu yang dibagikan itu telah memasuki masa kedaluwarsa mulai pada tanggal 16 dan 17 Januari 2026. Hal itulah yang memicu dugaan keracunan para siswa ini.
“Dari foto susu yang diminum itu saya liat sudah expired, pada tanggal 16 dan 17 Januari 2026. Itu kan sangat tidak aman untuk dikonsumsi untuk anak-anak. Jadi saya besar kecurigaannya. Terlebih korbannya mencapai 38 orang,” terangnya.
Ia mengaku belum pernah melakukan komunikasi dengan pihak SPPG. Namun, berdasarkan informasi yang didapatkan melalui guru sekolah masing-masing, pola yang dialami oleh para siswa hampir sama, yaitu setelah minum susu kemudian langsung menimbulkan reaksi.
“Saya hanya komunikasi dengan guru yang ada di sekolah. Mereka menceritakan bahwa polanya sama, setelah minum, ada juga yang hanya dikasih cicip oleh temennya kemudian kena juga,” tegasnya.
Pemdes juga telah mengeluarkan surat edaran melalui grup whatsapp untuk meminta masyarakat agar mencegah anaknya meminum susu yang didapatkan melalui SPPG tersebut. Surat itulah kemudian yang banyak dibaca oleh warga, sehingga korban dari sekolah lain tak terkena.
“Saya langsung buat surat edaran melalui grup WA untuk memberikan imbauan kepada masyarakat agar anak-anak mereka tidak meminum susu tersebut. Sehingga, pada proses sekolah lain masih didroping, surat udah menyebar sehingga bisa dihentikan,” tambahnya.
Suhaedi mendesak pihak puskesmas untuk melakukan uji laboratorium terhadap susu yang diberikan kepada para siswa. Ia menduga, hal itulah yang memicu korban mengalami mual, muntah hingga mencret.
“Sekarang sudah ditangani. Tinggal kita tunggu hasil uji laboratorium yang menyebabkan keracunan ini,” jelasnya.
Adapun kejadian ini seharusnya tak pernah terjadi, karena dalam satu SPPG telah ditaruh ahli gizi yang memang bertugas sebagai penjamin keamanan makanan.
“Susunya ini sudah expired, sejak hari ini dan ada juga yang kemarin. Ini kan sangat membahayakan kesehatan anak-anak. Saya minta SPPG ini harus hati-hati dan lebih teliti. Karena ini persoalan nyawa manusia. Kemudian, untuk kejadian ini saya minta SPPG-nya harus betanggungjawab baik itu secara moral maupun materi,” jelasnya.
Kasi Humas Polres Lombok Tengah, IPTU Lalu Brata Kusnadi mengatakan, pihaknya telah mendapatkan informasi tersebut dari jajaran Polsek Kopang. Pihaknya juga telah meninjau kondisi para korban di puskesmas.
“Emang benar telah terjadi dugaan keracunan yang dialami oleh beberapa siswa,” jelasnya.
Brata menjelaskan, saat ini pihaknya masih melakukan penyelidikan dan mengumpulkan keterangan para saksi. MBG ini disalurkan oleh SPPG Nusantara Jaya Cetring, Desa Muncan.
“Untuk lebih lengkapnya kita masih melakukan penyelidikan,” tutupnya. (ang)