Banda Aceh suararinjani.com – Tgk.Dr. Abd. Razak, kembali terpilih sebagai Ketua PWNW Aceh periode 2026-2031 dalam Musyawarah Wilayah Nahdlatul Wathan (Muswil NW) Provinsi Aceh, di Dayah Daruzzahidin, pada Rabu (12/02/2026). Kegiatan Muswil tersebut berlangsung khidmat, tertib, dan penuh semangat ukhuwah.
Usai Muswil, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (PBNW), Dr. TGKH. Zainuddin Atsani, langsung melantik kepengurusan NW di Tanah Rencong Banda Aceh tersebut.
Terpilihnya kembali Tgk.Dr. Abd. Razak, bukan sekadar perpanjangan masa bakti, melainkan peneguhan kepercayaan kolektif atas kesinambungan visi dan gerak organisasi. Di tengah perubahan sosial yang kian dinamis, tantangan dakwah yang semakin kompleks, serta kebutuhan kaderisasi yang mendesak, Nahdlatul Wathan Aceh, memilih untuk berdiri di atas fondasi yang kokoh, merawat tradisi, sekaligus membaca zaman dengan bijaksana.
Dalam sambutannya, Dr. Abd. Razak menegaskan bahwa kepemimpinan adalah amanah khidmat, bukan sekadar simbol kehormatan.
“Wahdfaz dan Wanshur harus menjadi napas perjuangan kita. Kita melestarikan nilai, menjaga warisan ulama, dan pada saat yang sama menyiarkan dakwah dengan hikmah serta memperluas manfaat bagi umat,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh pengurus untuk memperkuat konsolidasi internal dan memperluas kerja-kerja sosial-keagamaan di seluruh pelosok Aceh.
“Dengan amanat ini, mari kita semua terus berjuangan menyebarkan Nahdlatl Wathan melalui kerja-kerja sosial dan keagamaan,”pungkasnya.
Sekretaris Wilayah PWNW Aceh, Tgk. Faisal Kuba, juga menyampaikan bahwa momentum ini adalah titik tolak penguatan langkah organisasi.
“Hari ini kita tidak hanya meneguhkan kepemimpinan, tetapi memperbaharui niat kolektif. Wahdfaz adalah kesetiaan kita pada akar perjuangan, dan Wanshur adalah keberanian kita menyapa zaman. Nahdlatul Wathan harus hadir sebagai rumah besar dakwah yang teduh, mencerdaskan, dan menyatukan,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (PBNW), Dr. TGKH. Zainuddin Atsani, dalam sambutannya memberikan apresiasi atas soliditas PWNW Aceh serta menaruh harapan besar terhadap kepengurusan yang kembali diteguhkan. Ia menekankan bahwa Aceh memiliki posisi strategis dalam khazanah keislaman Nusantara.
“Aceh adalah tanah ulama, tanah perjuangan. Nahdlatul Wathan di Aceh harus menjadi simpul persatuan, penjaga nilai, dan penggerak dakwah yang menyejukkan. Wahdfaz dan Wanshur bukan hanya semboyan organisasi, tetapi jalan peradaban,” tegasnya.
TGKH Zainuddin Atsani, juga mengingatkan pentingnya menjaga harmoni, memperkuat kaderisasi, dan menghadirkan program nyata yang menyentuh kebutuhan umat.
“Organisasi yang besar bukan diukur dari struktur saja, tetapi dari manfaat yang dirasakan masyarakat,”pungkasnya.
Pelantikan yang mengusung tema “Wahdfaz dan Wanshur: Meneguhkan Khidmat Nahdlatul Wathan di Tanah Rencong” menjadi simbol bahwa PWNW Aceh tidak sekadar berjalan, tetapi bersiap melangkah lebih tegap dan terarah.
Dari Tanah Rencong, semangat itu diharapkan terus tumbuh, menguatkan tradisi keilmuan, menyebarkan nilai dakwah, serta menjaga api perjuangan agar tetap menyala dalam bingkai ukhuwah dan istiqamah.
Momentum ini menjadi penanda bahwa khidmat Nahdlatul Wathan di Aceh bukanlah gema sesaat, melainkan ikhtiar panjang yang dirawat dengan kesetiaan, diteguhkan dengan kebersamaan, dan dijalankan dengan tanggung jawab. (sr)