Lombok Timur SR – Ketua Umum, Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (PBNW) TGKH Muhammad Zainuddin Atsani, bersama Raois ‘Am Dewan Musytasyar PBNW al Mujahidin Ummuna Hj St Raihanun Zainuddin Abbul Madjid, menggelar silaturahim pribadi di kediaman Ketum PBNW Darul Hamzanwadi di lingkup Pontren Syaaikh Zainuddin NW Anjani, Senin (02/05).
Istiah Silaturahim Pribadi, sendiri dicetuskan dan dipopulerkan oleh Pendiri Madrasah NWDI, NBDI dan organisasi NW Al-Magfurulah Maulanasyaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid, semasa hayatnya sebagai ajang saling memaafkan antar pengurus dan warga NW di hari Idul Fitri.

Pada Idul Fitri 1443 Hijiriyah ini, momen tersebut berlangsung hidmat karena selain dihadiri para zurriyat (keturunan) Maulanasyaikh, juga hadir pengurus organisasi NW dari tingkat pusat sampai rantai dan warga NW.
Dalam amanatnya, Ketua Umum PBNW, menegaskan bahwa esensi Idul Fitri yang kita dapatkan yaitu A’idin yang disimbolkan kembali bersih/suci. Kemudian, Faizin , merujuk agar kita menjadi orang yang beruntung. Dan ketiga adalah Maqbulin, yang dimaknai sebuah pengharapan semua amal ibadah kita selama bulan suci Ramadhan diterima Allah SWT.
“Jadi, apa yang kita tradisikan di bulan Ramadhan sayogianya terus dilaksanakan di luar bulan ramadhan sebagai wujud keberhasilan kita menjalankan riadah selama Ramadhan,” ungkapnya.
Maulanasyaikh Hamzanwadi II, panggilan akrabnya juga tidak lupa menyampaikan permohonan maaf kepada semua warga NW atas nama pribadi dan pengurus Nw di seluruh Indonesia.
“Atas nama pribadi dan PBNW kami mohon maaf selamat Idul Fitri Mhon maaf lahir bathin,” pungkasnya.

Sebelumnya, Ketua Pengurus Daerah Nahdlatul Wathan (PDNW) Kabupaten Lombok Tengah, Dr. TGH. Zainal Arifin Munir, didaulat memberikan pengajian silaturahmi.
Dalam tausiyahnya, Abah Yanmu, akrab disapa jamaahnya, mengungkapkan kita benar-benar bersyukur kepada Allah SWT, karena karuniaNya kepada kita semua melimpah di hari ini. Katanya, melanjutkan perjuangan orang tua merupakan bagian dari Birrul walidain atau berbakti kepada kedua orang tua. Menjaga, memelihara dan melestarikan apa yang telah diamanatkan oleh guru kita merupakan bentuk bakti kita.
“Dan kelebihan dari bakti kepada orang tua termasuk guru akan memperpanjang umur. Berkelompok kita dalam organisasi yang diwariskan guru besar kita adalah dalam rangka kita ikhtiar agar bisa mengikuti beliau masuk sorga bigoiri hisab,”jelasnya.
Karena, menurutnya, memang kelak para hamba-hamba Allah SWT masuk surga itu berkelompok- kelompok. “Saya bayangkan, kelak Al-Magfurulah guru besar kita Maulanasyaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid, ketika akan masuk surga dicegat terlebih dahulu oleh para Malaikat, dan diminta mengajak murid-muridnya untuk masuk sorga bersama-sama,”tandasnya.
TGH Ihsan Safar, juga menyampaikan tausiyah mengatakan sebuah kesyukuran bagi kita murid-murid Maulanasyaikh bisa bersilaturahmi dan langsung tatap muka dengan putri pendiri NW yang sami’na waato’na kepada wasiat ayahdanya juga dapat temu kangen bersama pengganti Maulanasyaikh yaitu Maulanasyaikh Atsani beserta keluarga.
Ada 3 cara silaturahmi, pertama bertatap muka, yang kedua bermusofahah, sedang yang ketiga dengan bilmurosalah atau saling mengirim pesan. “Mudah-mudahan kehadiran beliau membawakan kita berkah, hidup kita berkah, dan pahala bertambah.,” ujarnya. (vin).