Medan Juang Kian Meluas, PBNW Kembali Kirim Duta Pejuang NW

Medan Juang Kian Meluas, PBNW Kembali Kirim Duta Pejuang NW

Lombok Timur suararinjani.com – Pengurus Besar Nahdlutul Wathan (PBNW) kembali mengirim Duta Penjuang NW ke berbagai pelosok di Nusantara.Duta Pejuang NW ini merupakan program unggulan PBNW dibawah kepemimpinan TGKH. Lalu Gede Muhammad Zainuddin Atsani, sejak terpilih pada Muktamar ke – 14 NW di Mataram 2019 silam. Secara hostiris pengiriman pejuang NW sudah ada sejak zaman pendiri NW Maulanassyaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, namun belum terkoordinir secara struktural.

Program pengiriman guru-guru ke berbagai daerah di Indonesia tidak memiliki nama khusus atau program khusus melainkan pengiriman guru atas permintaan berbagai pihak. Sampai kemudian di era Maulana al-Syaikh al-Tsani (Ketua Umum PBNW hasil Muktamar ke 15 di Mataram red) program tersebut diberi nama Duta Pejuang Nahdlatul Wathan.

Pada tahun ini, PBNW kembali merekrut Duta Pejuang NW untuk ke- 5 kalinnya yang akan dikirim berjuang. Namun sebelum mereka diberangkatkan ke medan juang, terlebih dulu calon pejuang NW ini diberikan pembekalan berbagai disiplin keilmuan baik secara teori maupun praktik sebagai bekal.

Ketua Umum PBNW TGKH. Lalu Gede Muhammad Zainuddin Atsani, secara resmi membuka pembekalan Duta Pejuang NW di Pontren Cendekia DLM NW Aiklomak, Kecamatan Aikmel Lombok Timur, pada Jumat (05/05).

Dalam arahannya, Kiyai Hamzanwadi II, sapaan akrabnya mengingatkan misi NW dalam mengirim para pejuang. Nahdlatul Wathan dalam konteks Duta Pejuang adalah misi sekaligus semangat dalam menjalankan amanah perjuangan menyebarkan kebajikan dan kebaikan yang diperoleh di Pesantren Nahdlatul Wathan.

“Nahdlatul Wathan disebarkan, dikuatkan, dijaga dengan mengirim kader Nahdlatul Wathan dengan pembekalan khusus.  Jadi duta pejuang sebagaimana dihajatkan bukanlah guru biasa atau guru pada umumnya. Untuk menjadi pembina pengasuh penguat pelayan masyarakat melalui kegiatan pendidikan sosial dan dakwah,” imbuhnya.

Lanjutnya, program Duta Pejuang Nahdlatul Wathan (disingkat  Duta NW) merupakan program Pengurus Besar Nahdlatul Wathan yang terlahir dari adanya kebutuhan guru mengaji, guru madrasah, dan pembina pondok khususnya di luar daerah.  “Perkembangan lembaga pendidikan Nahdlatul Wathan di seluruh Indonesia sangat pesat tentu membutuhkan berbagai infrastruktur termasuk guru Pembina,” tandasnya.

Rektor IAIH NW Loti mini juga berpesan kepada Duta Pejuang NW agar senantiasa berjuang dengan ikhlas, penuh rasa tanggungjawab, menjaga marwah NW dan bergaul secara inklusif dengan siapapun demi tercapainya misi perjuangan.

“Jaga NW dan sebarkan NW seluruh penjuru Nusantara dan dunia. Insya Allah guru besar kita Maulanasyaikh terus mengawasi muridnya yang melanjutkan perjuangan menegakan agam Islam,” tutupnya.

Di tempat terpisah, Sekretaris Jenderal PBNW, Prof H Fahkrurazi, mengulas tentang pendiri NW mengirim muridnya berjuang ke berbagai daerah. Di tahun 1980-an misalnya telah mengirim tullab terbaik ke wilayah Kalimantan dan Sulawesi. Salah satu utusan Maulana pada saat itu  bernama Mursal dan Fahrurrozi. Keduanya adalah juara satu lulusan terbaik di masanya.

Mursal kini menetap di Kalimantan dan tercatat pernah menjadi kepala desa di tempat ia ditugaskan. Para alumni Ma’had juga ada yang datang secara sukarela ke wilayah tersebut. Nahdlatul Wathan berkembang makin dikenal luas di masyarakat Kalimantan.

“Di periode awal tercatat Jumrah dan kawan-kawan dikirim ke wilayah Sulawesi Tenggara untuk menindaklanjuti sekolah (madrasah) yang diserahkan kepada Nahdlatul Wathan. Jumlah dan kawan-kawan juga membangun rintisan di berbagai tempat di wilayah tersebut baik berupa lahan wakaf (hibah) maupun pembiayaan mandiri,” jelasnya.

Secara mandiri, lanjut Guru Besar UIN Mataram ini, murid Maulana al-Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, di berbagai tempat sukarela dari swadana. Di awal dibukanya otoritas Batam oleh pemerintah juga sudah mengisi kegiatan pendidikan keagamaan. Satu alumni Ma’had yang berperan di Batam Center adalah Ust. Rumaksi. Beliaulah yang pertama kali memperkenalkan Nahdlatul Wathan di wilayah kepulauan Riau.

Kalimantan Timur juga memiliki tokoh awal pejuang Nahdlatul Wathan berasal dari desa Pringgajurang Kecamatan Terara Lombok Timur. Beliau mengikuti program transmigrasi ke wilayah Kalimantan Timur sekitar tahun 1980. Beliau menamatkan pendidikannya di Madrasah Ibtidaiyah NW Talun. Ditemani oleh Amaq Fatriah, beliau mengembangkan Nahdlatul Wathan.

“Kegiatan pengembangan dan pengenalan organisasi Nahdlatul Wathan dilakukan dengan mengajak masyarakat sekitar untuk membaca doa bersama dan bacaan khusus warga Nahdlatul Wathan yang bernama Hizib Nahdlatul Wathan,” urainya.

Kata Prof Ojik, panggilan akrabnya, Sarjana Sastra Bahasa Indonesia, guru pertama yang dikirim oleh Maulana al-Syaikh ke wilayah Kalimantan Timur adalah Ustadz Hafiz Allahu yarham. Beliau dikirim pada tahun 1989.

“Beliau berangkat dengan istrinya yang sama-sama alumni Ma’had Darul Quran wal Hadits. Pada lembaga pendidikan apapun di wilayah tersebut dan beliau merintis perjuangan dengan membentuk majelis ta’lim dan lembaga pendidikan anak-anak,” terangnya.

Duta Nahdlatul Wathan, katanya, menjadi brand perjuangan Nahdlatul Wathan dalam hal kaderisasi dan penguatan kapasitas guru, baik dari sisi pengalaman maupun pengamalan ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan.

“Penyebutan guru yang dikirim ke berbagai wilayah Nusantara dengan nama Duta Pejuang Nahdlatul Wathan untuk menjadi petunjuk pembeda (distingsi) antara guru pada umumnya dengan guru yang spesifik memiliki tugas khusus dari pengurus besar Nahdlatul Wathan,” tandasnya.

Duta berarti utusan. Utusan bermakna wakil kehormatan diutus dengan tugas terhormat. Adapun pejuang adalah mereka yang menempuh jalan perjuangan Islam dengan menyebarkan panji-panji Islam melalui organisasi Nahdlatul Wathan.

“Pejuang adalah mereka yang mau menjalani lelah tidak menerima mudah dan selalu dalam koridor ikhlas Istiqomah memperjuangkan agama lillah dan tidak semata bekerja atas dasar upah,” pungkasnya.

Penannggungjawab Duta Penjuang NW Dr Thohri menyampaikan solusi terhadap kebutuhan tenaga pendidikan tersebut diinisiasi oleh PBNW dengan membuat program khusus yang dimakamkan Duta Pejuang Nahdlatul Wathan. Perekrutan Duta NW dilaksanakan dengan beberapa tahapan yakni 1. Penjaringan peserta melalui penyebaran informasi melalui medsos, 2. Pendaftaran peserta Duta NW melalui tautan penjaringan, 3. Pembekalan Duta NW, 4. Pendistribusian/penentuan daerah tujuan Duta NW, 5. Pengiriman Duta NW ke daerah yang sudah ditetapkan.

Pembekalan perekrutan Duta NW sudah dilaksanakan sebanyak 5 kali. Perekrutan pertama kali dilaksanakan pada tahun 2020 kemudian tahun 2021 dilaksanakan 2 kali, 2022, dan sekarang tahun 2023.

“Sebaran Duta NW sudah menyasar 19 provinsi di Indonesia mulai dari ujung barat (Provinsi Aceh) dan paling timur (provinsi NTT) dengan total 181 orang Duta Pejuang NW. Dari jumlah tersebut ada 49 perempuan dan 132 laki-laki,” katanya.(sr)

Bagikan Berita

Share this post