Oleh: Hurnawijaya, S.HI., M.Sy.*
“Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zaman, karena sesungguhnya mereka hidup di suatu masa yang tidak sama dengan masamu.Sesungguhnya mereka tercipta untuk zamannya sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian.” (Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA.)
Dewasa ini kita dihadapkan pada suatu situasi yang barangkali tidak pernah terbayangkan pada masa masa sebelumnya. Arus perkembangan zaman terus bergerak begitu cepat. Kita berada di suatu era yang diperkenalkan oleh seorang Profesor di Harvard Business Schooll, Clayton M. Christensen sebagai era disrupsi. Perkembangan teknologi informasi dan digitalisasi menjadi penanda derasnya arus perubahan sehingga dikenal dengan era disrupsi digital. Era dimana kita mengalami banyak sekali kejutan-kejutan yang terjadi akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sedemikian pesat sehingga merubah kebiasaan, perilaku, tata cara bahkan pola kehidupan sosial dari setiap individu. Secara lebih jelasnya Era disrupsi merupakan suatu era dimana terjadinya situasi dan kondisi sedemikian rupa sebagai akibat diterapkannya berbagai inovasi baru yang merangsek masuk ke dalam sendi kehidupan individu dalam masyarakat. Kondisi ini menciptakan efek disrupsi yang sedemikian kuatnya sehingga terjadi perubahan pada struktur atau sistem yang sudah ada sebelumnya. Suatu hal yang tampak jelas adalah dengan berkembangnya penemuan dan pemanfaatan teknologi digital pada berbagai sektor.
Ciri utama kemajuan teknologi informasi dan digitalisasi yang dicapai saat ini mendorong meluasnya penggunaan teknologi digital sampai ke seluruh pelosok negeri. Hal ini dapat dilihat dari masifnya perkembangan penggunaan internet di berbagai daerah baik di Kota bahkan hingga ke pelosok desa. Keberadaan internet ini mampu membuat masyarakat suatu daerah dengan mudah dapat berbagi informasi dengan daerah lainnya secara cepat sehingga mampu memperpendek jarak komunikasi antar berbagai elemen masyarakat. Komunikasi dapat dilakukan dengan sangat efektif. Di Indonesia diperkirakan Sebanyak 120 juta penduduk menggunakan jaringan internet melalui perangkat mobile dan aktivitas online mencapai kurang lebih 37 persen dalam seminggu (Pamungkas, 2019:iv).
Dunia pendidikan juga tidak luput dari terjangan arus teknologi digital yang melanda dunia. Pendidikan di Indonesia juga mengalami transformasi cukup signifikan dalam hal proses pembelajaran siswa maupun sistem pendukung proses pembelajaran terlebih pasca endemic Covid ’19. Pendidikan kita seolah dipaksa untuk bisa mengikuti perkembangan negara maju yang mengalami perubahan yang amat cepat dan bahkan telah mencapai keadaan disruptif oleh perkembangan teknologi informasi. Perubahan proses pembelajaran pada era disrupsi digital ini tampak pada pengembangan model pembelajaran yang memberikan kesempatan dan kebebasan kepada siswa untuk menggali informasi yang lebih luas berkaitan dengan materi pembelajaran dengan menggunakan teknologi informasi yang sedemikian maju dengan jangkauan yang tak terbatas, melewati batas ruang, gedung-gedung sekolah, kampus dan bahkan negara.
Situasi ini akan mengakibatkan banyaknya peran yang akan tergantikan termasuk salah satunya adalah peran seorang guru dalam proses pendidikan dan pengajaran, terlebih jika guru tidak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada. Dalam rangka mengantisipasi itulah maka guru harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Ia harus hadir tidak hanya sebatas transfer ilmu pengetahuan dan sebatas menyampaikan materi pembelajaran. Terlebih saat ini salah satu langkah penyesuaian di dunia pendidikan di Indonesia adalah dengan hadirnya kurikulum merdeka. Kurikulum yang didesain oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam rangka memberikan keleluasaan kepada pendidika untuk menciptakan pembelajaran berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan dan lingkungan belajar peserta didik. Kebutuhan untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman, juga lingkungan belajar yang terus berubah seiring kemajuan zaman.
Seorang guru di era disrupsi ini dituntut untuk bisa menjadi inspirasi bagi murid-muridnya. Betul bahwa transfer of knowledge itu penting untuk pengembangan sumber daya manusia karena melalui transfer pengetahuan individu-individu dapat meningkatkan skill, baik soft skill maupun hard skill untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Tetapi jauh lebih penting adalah transfer of value yaitu mentransfer nilai-nilai akhlak mulia dan budi pekerti yang baik serta memberikan keteladanan melalui pendidikan dan pengajaran yang menghadirkan hati dan ketulusan di dalamnya. Teramat benarlah ungkapan bijak “jika menjadi guru hanya sebatas mengajar siswa untuk mengetahui maka ada masanya peranmu akan terganti dengan teknologi informasi, tetapi jika menjadi guru adalah menghadirkan inspirasi dan keteladanan maka selamanya engkau akan tetap dicari dan dibutuhkan.” Sukma dewi, dkk (2019) menjelaskan Kebutuhan psikologis siswa juga dibutuhkan yakni Needs for competence, Needs for autonomy, Needs for relatedness, dan Sustainable learning. Empat hal tersebut tidak dimiliki oleh sebuah Artificial Intelligent yang sedang marak saat ini. Disinilah peran Guru yang tak bisa tergantikan oleh Teknologi.
Seorang guru yang tak tergantikan itu menurut hemat kami adalah Guru “Idola”. Seorang guru yang memiliki paling tidak lima ciri utama yang merupakan akronim dari kata “IDOLA”. Dia memiliki inisiatif untuk selalu meng-inspirasi, melaksanakan tugas dengan dedikatif, berjiwa organisatoris, tetap menjadi seorang lerner (pembelajar) dan aktif sebagai seorang guru untuk bisa senantias menjadi Guru yang digugu dan ditiru. Lima ciri ini adalah ciri utama guru idola yang dapat dijabarkan sebagai berikut:
Pertama, Inisiatif dan Inspiratif. Menurut KBBI, inisiatif adalah tindakan awal dalam melakukan suatu usaha. Hal ini menunjukkan bahwa inisiatif merupakan suatu tindakan yang dilakukan secara sadar oleh individu untuk mencapai tujuan tertentu. Inisiatif berarti seorang guru harus memiliki nawaitu yang tepat dalam mengajar. Menjadi seorang guru adalah pilihan, maka ketika telah memutuskan untuk menjadi seorang pendidik harus terus memiliki inisiatif untuk memulai hal-hal baru kemudian menularkannya kepada peserta didik. Sebagaimana telah dipaparkan di atas bahwa tugas seorang guru bukanlah hanya sebatas transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi inspirasi bagi murid-muridnya dengan transfer nilai berupa keteladanan. Betapa dahsyat inspirasi yang datang dari seorang guru IDOLA. Dalam banyak hal, seringkali peserta didik lebih mendengarkan gurunya daripada kedua orang tuanya. Maka seorang guru yang memberikan inspirasi melalui perkataan dan diikuti dengan contoh tauladan berupa tindakan akan sangat membekas di hati murid-muridnya.
Kedua, Dedikatif. Seorang guru juga haruslah seorang yang menjalani profesinya dengan penuh dedikasi. Jiwa pengabdian yang tinggi dan tanpa pamrih akan membuatnya menjadi pribadi yang tidak mengukur segala hal dengan standar materi. Pilihan menjadi guru adalah panggilan jiwa untuk mencerdaskan generasi, maka akan sangat naif jika pekerjaan mulia tersebut hanya berorientasi pada materi dan kepentingan duniawi. Seorang guru IDOLA sepenuhnya menyadari bahwa balasan tertinggi adalah di sisi Allah karena mereka menjalani profesi mulia sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.
Ketiga, Organisatoris. Sebagai seorang guru dituntut untuk memiliki kemampuan mengorganisir kegiatan belajar mengajar dengan baik dan menyadari pentingnya Langkah-langkah pokok dalam organisasi untuk suksesnya karir sebagai seorang guru baik itu di kelas, di lingkungan kerja, maupun di lingkungan masyarakat berbangsa dan bernegara secara umum. Dia harus menerapkan Langkah-langkah manajemen organisasi POACE yang terdiri dari Planning (perencanaan kegiatan belajar mengajar), Organizing (mengorganisir kegiatan pembinaan dan pembelajaran), Actuating (menjalankan program yang telah direncanakan), Controlling (melakukan pengawasan dan pembimbingan) dan Evaluating (melaksanakan ujian dan evaluasi untuk refleksi dan perbaikan) dengan sebaik-baiknya untuk menunjang tugasnya sebagai seorang guru IDOLA.
Keempat, Learner yang berarti pembelajar. Sikap pembelajar adalah ciri utama seorang guru IDOLA. Seorang guru harus memiliki semangat curiosity atau rasa ingin tahu yang besar untuk bisa terus belajar hal-hal baru terlebih di era disrupsi sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya. Rasa ingin tahu ini pada gilirannya akan memotivasinya untuk terus belajar dan bisa beradaptasi dengan pesatnya arus perkembangan teknologi. Predikat guru gaptek (gagap teknologi) tidak ada dalam kamus seorang guru IDOLA. Ia senantiasa bisa cepat beradaptasi dengan perubahan baik perubahan zaman maupun perubahan lingkungan bahkan perubahan kurikulum. Baginya perubahan kurikulum adalah kesempatan untuk terus belajar dan mengembangkan diri dengan inisiatif untuk melakukan inovasi untuk berhasilnya tugas mulia sebagai seorang guru.
Kelima, Aktif. Ciri guru IDOLA yang tidak kalah pentingnya adalah aktif. Aktif dalam arti harus aktif mengembangkan kompetensi diri dengan ikut terlibat dalam pengembangan siswa, pengembangan kurikulum, pengembangan Lembaga Pendidikan tempatnya mengabdi, pengembangan organisasi profesinya bahkan aktif dalam terlibat dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Ia menyadari betul bahwa seorang guru harus memiliki 4 (empat) kompetensi inti sesuai dengan amanat Undang-Undang Republik Indonesia nomor 14 tahun 2005 pasal 8 bahwa kompetensi guru meliputi kompetensi kepribadian, kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang hanya akan didapatkan jika ia selalu aktif.
Dengan memiliki kelima sifat dan ciri-ciri guru IDOLA tersebut maka seorang guru akan menjadi idola bagi murid-muridnya. Kehadirannya akan selalu dirindukan untuk membersamai peserta didik dalam upaya mencetak generasi yang cerdas, berilmu, beriman dan berakhlakul karimah sebagaimana tujuan pendidikan nasional yaitu membangun manusia Indonesia seutuhnya. Guru yang melaksanakan pendidikan untuk mengembangkan kemampuan, membentuk watak, kepribadian agar peserta didik dapat menjadi pribadi yang lebih baik. Dengan itu pula ia telah mengejawantahkan pesan Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA. Sebabagimana kutipan pada awal tulisan ini. Mendidik siswa sesuai dengan zaman mereka untuk bisa tumbuh dan berkembang menjadi pribadi-pribadi manusia Indonesia yang sehat, cerdas, unggul, tangguh dan bisa bersaing menghadapi tantangan zaman menuju Indonesia Emas 2045.
*Penulis adalah Pendiri dan Ketua Yayasan Pondok Pondok Pesantren Daruttaqwa Al-Khairiyah NW Teko – Lombok Timur juga merupakan Dosen Universitas Islam Negeri Mataram. Saat ini sedang menjalani tugas belajar sebagai Mahasiswa S3 Program Beasiswa Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal bekerjasama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan Universitas PTIQ Jakarta.