Oleh Mugni Sn. (M.Pd.,M.Kom.,Dr.)
(Direktur Politeknik Selaparang Lombok/Ketum Pimpus ISNW)
Almagfurulah Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid sudah seperempat abad meninggalkan alam pana. Namun nama beliau berpuluh-puluh kali disebut dalam sehari oleh murid-murid dan pencintanya. Itulah ungkapan tulus dari Habib Bahar bin Semith, sang tokoh yang keluar masuk penjara untuk satu keyakinan, “Katakan yang benar sekalipun itu pahit”. Bagi kita murid-murid Maulana Syaikh, ungkapan Habib Bahar itu adalah fakta, realita, dan kenyataan, bukan ilusi. Pernahkah Habib Bahar berguru pada Maulana Syaikh….Alluaklam.
Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid-Maha Guru Warga Nahdlatul Wathan telah menyampaikan banyak pesan/wasiat/fatwa kala hayat. Wasiat-wasiat beliau telah diabadikan dalam Buku Wasiat Renungan Masa. Di samping itu, banyak juga wasiat-wasiat/fatwa-fatwa/pesan-pesan Sang Maha Guru beliau yang ditulis/dicatat secara pribadi oleh murid-murid beliau di kala mengikuti pengajian/perjalanan dakwah beliau. Catatan-cacatan pribadi murid-murid tersebut bisa saja berbeda antara yang satu dengan yang lain sekalipun mereka berada pada majelis/kelas/tingkat yang sama kala pesan/wasiat/fatwa itu disampaikan. Mengapa demikian? Karena bisa saja satu murid mencatat dan yang lain tidak. Bisa juga satu murid memperhatikan yang lainnya lagi tidak fokus. Bisa juga yang satu fokus yang lain lagi bermimpi karena ketiduran. Bisa saja murid yang satu daya tangkapnya tinggi yang lain biasa-biasa saja. Bisa saja saat fatwa/pesan/wasiat itu disampaikan, murid yang satu hadir dan yang lain tidak, dan seterusnya. Untuk itu bila ada seorang murid yang punya catatan pribadi tentang fatwa/pesan/wasiat Maulana Syaikh dan menyampaikannya kepada halayak lantas dibantah oleh teman seangkatan. Ya… jangan dulu. Periksalah diri sendiri jangan terbawa emosi dan gengsi. Selalukah mengikuti pengajian? Selalukah mencatat? Tidak pernahkah mengantuk saat mengikuti pengajian? Tinggikah daya tangkap kala mengikuti pelajaran, dan seterusnya.
Di antara pesan/wasiat/fatwa Maulana Syaikh adalah pentingnya pesatuan. Pentingnya kekompakan. Pentingnya keutuhan. Beliau sering menyampaikan kompok utuh bersatu. Nahdlatul Wathan didirikan sebagai wadah bersatunya para murid yang dikenal dengan istilah abituren. Wadah bersatunya para pencinta dan simpatisan Nahdlatul Wathan. Dalam Wasiat Renungan Masa ditegaskan, //Kompak utuh bersatu haluan//Istiqomah ikhlas kepada Tuhan//Itu amanat Maulana Al-Hasan//Kepada warga Nahdlatul Wathan// //Bagi yang tunduk pada nasihat//Memegang teguh pada amanat//Memegang teguh pada wasiat//Zahir batinnya penuh barakat//. Di samping itu, Maulana Syaikh menciptakan wadah-wadah untuk berkumpulnya warga Nahdlatul Wathan. Wadah untuk bersilaturrahami sebagai implementasi sekaligus ikhtiar mengukuhkan persatuan. Salah satu wadah itu adalah HULTAH NWDI.
HULTAH NWDI adalah ulang tahun madrasah pertama yang didirikan oleh Maulana Syaikh. HULTAH NWDI sejak pertama diselenggarakan dengan tujuan untuk mengumpulkan murid-murid (abituren) yang pernah berlajar pada Madrasah NWDI dan NBDI. Pada perkembangan selanjutnya seluruh murid-murid yang pernah belajar pada lembaga pendidikan Nahdlatul Wathan. Mereka yang pernah belajar di lembaga pendidikan Nahdlatul Wathan dalam konsep Nahdlatul Wathan dikenal dengan istilah abituren.
Dalam Wasiat Renungan Masa tertulis dengan jelas tentang pentingnya para abituren hadir/meramaikan HULTAH, antara lain, //Malahan ada yang takut HULTAH//Tidak berani tampakkan wajah//Terkadang datang tapi gelisah//Padahal dia ustadz-ustadzah//. HULTAH NWDI adalah wadah silaturrahmi nasional para abituren Nahdlatul Wathan dan warga Nahdlatul Wathan. Saat HULTAH NWDI, Maulana Syaikh mengharuskan para abituren untuk beramal yang dikenal dengan amal abituren. Amal abituren adalah sumbangan tahunan para abituren Nahdlatul Wathan. Permakluman amal abituren sekaligus sebagai undangan untuk menghadiri HULTAH NWDI dengan seluruh rangkaian kegiatannya. Amal abituren akan dipergunakan untuk mengembangkan organisasi Nahdlatul Wathan dan amal usahanya, yakni pendidikan, sosial, dan dakwah Islamiyah.
Menurut Almagfurullah Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, HULTAH NWDI harus sukses. Ada 3 (tiga) indikator kesuksesan HULTAH NWDI, yakni (1) Seluruh rangkaian acara HULTAH NWDI berjalan dengan lancar lebih-lebih pada hari, “H”; (2) Banyak amal yang terkumpul; dan (3) Banyak jamaah yang hadir pada seluruh rangkaian acara dan lebih-lebih pada hari, “H”. Setiap kali peringatan HULTAH NWDI dalam kondisi yang normal maka banyak kegiatan yang dilaksanakan sebagai rangkaian kegiatan HULTAH NWDI, seperti lomba-lomba untuk para santri, seminar, bakti sosial, pawai alegoris, dan lain-lain serta acara puncak dalam bentuk pengajian akbar tahunan dalam Organisasi Nahdlatul Wathan. Seluruh rangkain acara pada hari “H” harus berjalan dengan lancar termasuk dukungan pengeras suara yang tidak boleh terganggu sehingga seluruh jamaah yang hadir di medan HULTAH NWDI dapat mendengarkan. Untuk itu pada saat HULTAH NWDI digunakan juga radio supaya bisa direli ke pengeras-pegeras suara yang ada di luar medan utama HULTAH NWDI.
Saat HULTAH NWDI dilaksanakan harus banyak amal yang terkumpul. Salah satu sumber amal itu adalah dari para abituren. Nominal minimal amal abituren itu telah dicantum disurat permkluman HULTAH NWDI kepada para abituren. Nominal minimal ini diharapkan dapat ditunaikan oleh setiap abituren bahkan kalau memungkinkan dilebihkan. Amal abituren ini menurut Maulana Syaikh sebagai ungkapan syukur para abituren bahwa Madrasah/Sekolah/Perguruan Tinggi Nahdlatul Wathan tempat mereka pernah belajar terus tumbuh dan berkembang dan karena Nahdlarul Wathan mereka banyak menjadi “orang”. Dengan amal yang salah satu momentnya pada tiap kali HULTAH NWDI ini diharapkan amal usaha Nahdlatul Wathan harus terus tumbuh dan berkembang. Amal juga diminta dari pencinta Nahdlatul Wathan. Pencinta adalah warga Nahdlatul Wathan yang tidak pernah mengikuti pendidikan formal pada lembaga pendidikan Nahdlatul Wathan. Amal juga diharapkan diberikan oleh simpatisan Nahdlatul Wathan. Simpatisan adalah orang yang bukan abituren dan bukan pencinta tetapi mendukung amal usaha Nahdlatul Wathan. Di mendan HULTAH, tradisi penarikan amal ala Nahdlatul wathan, seperti mengelilingkan kotak amal dan melontar terus berjalan.
Dalam HULTAH NWDI harus banyak jamaah yang hadir karena HULTAH NWDI adalah wadah silaturrahmi Nasional bagi warga Nahdlatul Wathan. Banyak orang baru pertama sekali menghadiri HULTAH NWDI dan mereka menjadi tau bahwa inilah organisasi Nahdlatul Wathan yang jamaahnya tumpah ruah.
Pada tahun 2016, ada inisiasi yang dilakukan oleh Ketua Umum Pengurus Wilayah Nahdlatul Wathan Nusa Tengga Barat, RTGB.H.L.G. Muhammad Zainuddin Atsani yang direstui oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan untuk menyelenggarakan Peringatan Ulang Tahun Organisasi Nahdlatul Wathan, dengan istilah HADI (Hari Jadi) Nahdlatul Wathan. Istilah hadi adalah bahasa Arab yang diambil dari Walhadi… dari penutup pidato/surat Nahdlatul Wathan sebelum salam. Ini adalah inisasi yang luar biasa dan berhistoris. Saya jadi teringat saat menjadi Ketua HIMMAH NW Komisariat FKIP Unram, kami Pimpinan HIMMAH NW Cabang Mataram berdiskusi untuk membangun konsep supaya di HIMMAH NW ada wadah dan jenjang pengkaderan seperti pada organisasi kemahasiswaan ekstra kampus yang lain. Kami sepakat untuk itu. Sebagai organisasi aderbou maka keinginan kami untuk membuat hal baru ini harus kami sampaikan kepada Pengurus Organisasi. Kami pun mengadakan silaturrahmi dan konsultasi kepada tokoh-tokoh organisasi yang ada di Mataram. Beberapa tokoh yang kami temui menyampaikan, “ Sebaiknya istilah yang akan digunakan harus berbahasa Arab dan kepanjagannya bahasa Indonesia karena NW itu bahasa Arab, HIMMAH juga bahasa Arab”. Prinsipnya para tokoh sangat mendukung inisiasi kami. Arahan dari para tokoh ini menjadi dasar dan acuan kami dalam mencari istilah,. Akhirnya kami temukanlah istilah WAPA yang bersal dari doa pusaka, yakni man ilal hakki daa nawal wapa. WAPA bisa kepanjagannya menjadi WAKTU PENERIMAAN ANGGOTA dan biasa juga WAHANA/WAKTU PENGKADERAN ANGGOTA. Wapa (mengikat); HADI (petunjuk).
HADI NW adalah aktualisasi pesan wasiat. Wadah untuk mengokohkan persatuan. Kekompakan dan keutuhan warga Nahdlatul Wathan. Pesan wasiat yang menekankan kekompokan, keutuhan dan persatuan. Bukan wadah baru untuk memecah belah atau membagi jamaah. Bila ada wadah baru yang menyebabkan jamaah terbelah/terbagi/terpecah maka itu kontraproduktif dengan pesan wasiat pendiri Madrasah NWDI/NBDI dan Organisasi Nahdlatul Wathan. Sebagai wadah untuk persatuan dan kekompakan maka haruslah disyi’arkan semeriah mungkin mengalahkan seluruh peringatan yang ada di Nahdlatul Wathan. Lebih-lebih pasca 23 Maret 2021, peringatan HULTAH Madrasah NWDI menjadi sumir. HADI harus dipastikan puncak peringatannya pada hari lahirnya Nahdlatul Wathan, yakni 1 Maret. Satu Maret harus menjadi puncak peringatan HADI NW kecuali ada hal yang luar biasa dan 1 Maret jatuh pada hari Jum’at. Dengan demikian semua kegiatan dapat direncanakan dan dilaksanakan dengan baik dan terukur. Minimal 5 (lima) bulan sebelum 1 Maret, kepanitian HADI NW sudah ditetapkan oleh PBNW. Baik juga bila Panitia HADI NW sekaligus Panitia HARI PAHLAWAN. Itu artinya Agustus dan paling lambat September SK Panitia sudah ditetapkan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Wathan. Nahdlatul Wathan fil khaer-Nahdlatul Wathan fastabiqul khaerat. Wallahu’alambissawab.