Refleksi Hari Jadi ke-69 NW, Nahdlatul Wathan: Pusaka Maulana Syaikh sebagai Perekat Keragaman dalam Khidmah menuju Rahmatan Lil Alamin.

Refleksi Hari Jadi ke-69 NW, Nahdlatul Wathan: Pusaka Maulana Syaikh sebagai Perekat Keragaman dalam Khidmah menuju Rahmatan Lil Alamin.

Oleh:
H. Fahrurrozi Dahlan.QH.
(Sekretaris Jenderal PB NW)

Salam Pokoknya NW, Pokoknya NW Iman dan Taqwa.
Penulis awali tulisan ini dengan ungkapan Wasiat Renungan Masa Pengalaman Baru karya asli Maulanassyaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid al-Anfanany al-Mashyur:
Kalau anakku masih mengaku.
Bahwa NW Organisasi mu.
Pastilah ‘nakku taat seribu.
Menurut Imam kompak selalu. (WRM: 18.h. 75).
Hari Jadi NW (HADI NW) 1 Maret 1953 adalah momentum yang paling terpenting dalam sejarah perjuangan dan pergerakan Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid al-Anfanany al-Mashyur, di mana lahirnya Organisasi NW ini menjadi tonggak utama dalam menopang semua dinamika dan gerakan duo madrasah menumental di era Kolonial Belanda dan era kolonial Jepang, Duo madrasah itu disebut oleh pendirinya dengan istilah, Dwi Tunggal pantang tanggal, atau istilah Maulana Syaikh juga dengan bahasa Arab, Nahdhatain (نهضتين) Itulah yang mashur dengan sebutan Madrasah Nahdlatul Wathan Dinijah Islamijah- (Ejaan Suwandi-ejaaan lama) (NWDI) yang terbentuk pada tanggal 22 Agustus 1937 M, secara kemadrasahan bukan keorganisasian. Dan Madrasah Nahdlatul Banat Dinijah Ismaijah (Diniyah Islamiyah) yang populer dengan sebutan Madrasah NBDI, terbentuk tanggal 21 April 1943 M, madrasah embrio pertama sebagai lembaga formil untuk kaum perempuan, sebagai gerakan emansipatoris Maulana Syaikh TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid al-Anfanany.
Guna mengakomodasi dan mengorganisasikan semua perkembangan duo madrasah induk itu, Maulana Syaikh TGKH.M. Zainuddin Abdul Madjid al-Anfanany al-Mashyur mengorbitkan ide cemerlang dan gagasan transformatif beliau dengan secara ikhlas, tegas dan berani mendirikan sebuah organisasi yang bernama NAHDLATUL WATHAN disingkat. (N.W ) di mana saat itu sudah banyak organisasi kemasyarakatan yang telah berkembang dan maju sesuai eranya, menjadi tantangan tersendiri bagi organisasi NW yang baru lahir untuk eksis dan berkembang seiring ormas-ormas Islam yang telah duluan eksis dan berkembang, tarulah seperti Serikat Islam (1905), Muhammadiyah (1912), NU (1926), al-Khairat Palu(1930), Perti di Canding Agam Sumatera (1928), al-Jamiyyatul Washliyah (1930). Mathla’ul Anwar (1916- madrasah nya- Organisasi nya: 1952). dan lain sebagainya.
Berangkat dari sejarah ormas tersebut di atas, NW ikut ambil bagian untuk berkiprah secara organisasional dalam Khidmah keislaman, kebangsaan, dan Keummatan.

Justru itu NW di hari jadinya yang ke-69 ini mengambil tema: Pusaka Maulana Syaikh sebagai Perekat Keragaman dalam Khidmah menuju Rahmatan Lil Alamin.
Dalam tema besar ini, ada tiga kalimat kunci yang harus dipahami oleh semua santri NW dan Abituren NW bahkan juga para muslimin muslimat :

A. NW PUSAKA MAULANA SSYAIKH.

Secara shareh, terang dan jelas Maulanassyaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid al-Anfanany mengukir kata pusaka dalam karya beliau, Wasiat Renungan Masa Pengalaman Baru sebagai berikut:
Aduh Sayang!
Nahdlatul Wathan PUSAKAMU sendiri.
Dilahirkan Tuhan di Lombok ini.
Ciptaan Sasak Selaparang Asli.
Wajib dibela sampai akhirati.(WRM: 45, h. 82)
Aduh Sayang!
Nahdlatul Wathan Ciptaan Sasak.
Teguhkan barisan selalu kompak.
Jangan ‘Nakku dituduh gerasak.
Air Besar Batu Bersibak. (WRM: 73, h.116).
Nahdlatul Wathan Modal utama.
Bagi NTB dan Sasak semua.
Karena lahirnya di Zaman Belanda.
Sebagai madrasah sumber agama. (WRM: 122, h. 38)
Pusaka dalam dimensi sosiologis bermakna warisan atau sesuatu yang sangat berharga yang tak tertandingi harga dan nilainya dalam pandangan manusia sehingga dijadikan sebagai pusaka yang akan terus diabadikan dan dikenang sepanjang masa.
NW sebagai pusaka menemukan momentumnya di Hari Jadi (HADI) ke-69 ini karena pusaka NW Maulanassyaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid al-Anfanany terus dan akan terus diwariskan pusaka ini kepada keluarga besar NW di manapun saja berada dan dalam situasi kondisi apapun.
NW menjadi Pusaka yang dilanjutkan kepemimpinannya melalui mekanisme Muktamar dan termaktub dalam AD ART NW yang kemudian menjadi landasan operasional organisasi NW dalam melanjutkan estapeta PUSAKA NW ini.
NW menjadi Pusaka abadi Maulana Syaikh yang didirikan oleh beliau langsung dan diamanahkan untuk dilanjutkan pusaka ini pasca wafatnya beliau.
Kewajiban semua Abituren NW yang telah berbaiat untuk melanjutkan pusaka NW ini agar tetap dalam barisan Pusaka NW Maulanassyaikh bukan kepada organisasi yang bukan Maulana Syaikh yang mendirikannya. Jika ada yang membuat tandingan atas nama Maulana Syaikh TGKH MUHAMMAD ZAINUDDIN ABDUL MADJID AL-MASYHUR maka sesungguhnya dia telah melempar pusaka itu ke tempat yang lain, dan diambil alih oleh yang lain, bukan lagi bernafaskan pusaka NW tapi hanya mengambil tuah agar dia tak kehilangan arah dan Marwah sehingga dia tetap klaim diri sebagai pelanjut NW padahal sudah tak sejalan dengan pusaka NW karya Maulanassyaikh secara organisatoris dan sanad keorganisasian NW. Apatah lagi secara shareh menyebut dirinya berimam kepada TGB (lihat dokumen muktamar I NWDI) tidak lagi berimam kepada NW Maulanassyaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid al-Anfanany. Meski demikian, Pusaka NW tetaplah dia sebagai pusaka yang abadi yang tak tergantikan oleh apapun, karena lahir dari hati yang suci bersih, lahir dari restu sang maha guru pendiri NW sehingga NW tetap sebagai Pusaka yang wajib dijaga dan dipertahankan oleh semua Abituren NW yang telah berbaiat kepada Pendiri NW.
Hari Jadi NW ke-69 ini menjadi penguat kembali PUSAKA NW yang lebih kurang 22 tahun lebih berdinamika dan berkonflik sosial pasca wafat pendirinya, maka HADI Ke-69 ini membuktikan bahwa NW sejati, NW murni, NW nan Setia, NW Nan Maju, NW nan mulia, NW nan berkah, NW sang pelita, NW sang pencerah, NW jayanya lama, NW nan baik, yang sebutan NW itu dijelaskan semua oleh Maulana Syaikh dalam Wasiat Renungan Masa, tetap menjadi tolok ukur dalam mempertahankan PUSAKA MAULANASSYAIKH ini dari pihak-pihak yang tidak rela dan tidak siap berorganisasi sesuai koledor organisasi NW, sehingga akhirnya harus membuat organisasi baru yang sesuai dengan hajat, minat, hak individu dan kewarganegaraannya untuk membuat dan membentuk organisasi sebagai wadah menuju tujuan bersama dengan anggota organisasinya dan juga pemerintah ikut andil dalam memberikan ruang dan hak untuk itu melalui wasilah Kemenkumham RI. (Penandatanganan kesepahaman dengan Negara atas terbentuknya ormas NWDI-23 Maret 2021).

HADI NW ini momentum untuk membedakan diri dan memperkuat diri dengan ormas yang telah memisahkan diri dengan ormas NW hasil karya Maulanassyaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid al-Anfanany sekaligus memperkuat komitmen ke-NW-an secara internal maupun eksternal dan itu sah-sah saja karena memang disahkan oleh Negara.

Di sinilah urgensinya tasyakkur kelahiran NW ini untuk diperingati dan diekspos kepersada Nusantara bahkan dunia.

B. NW SEBAGAI PEREKAT KEBERAGAMAN.

Pelita NW bertambah terangnya.
Karena NW lahir padanya.
Berpartisipasi dengan megahnya.
Membela Agama Nusa dan Bangsa. (WRM: 47. h. 82).

Wahai anakku mari kembali.
Kepada NW karya sendiri.
Tak usah lari kesana kemari.
Agar bersama sepanjang hari. (WRM: 9, h.72).
Nahdlatul Wathan sesuai namanya pergerakan tanah air, kebangkitan bangsa, kemajuan berbangsa dan bernegara, bergerak kebangsaan, pergerakan kenusantaraan, perjuangan kebangsaan, dan segala maknya yang mencakupinya, memberikan substansi fungsi sebagai perekat,lem yang kuat untuk memperkuat kebangsaan dan Keummatan dalam keberagaman.
Nahdlatul Wathan dengan tiga dimensi makna sekaligus: Ahlul Wathan (اهل الوطن)، Penduduk Negeri, juga mengandung makna, ahli agama, (اهل الدين), Pemeluk Agama, ahli agama, dan alwathan dalam makna regulasi, kepemerintahan dan ketatanegaraan, (النظام، الرعية، الرئاسة). Sejatinya NW itu adalah berbangsa, bernegara dan beragama sekaligus.
NW hadir memberikan warna keberagaman yang toleran, akomodatif dan berpeduli dengan keragaman dan keberagamaan. Terbukti dengan NW berdiri dan berkembang di berbagai wilayah dan daerah di Nusantara bahkan di Luar negeri karena sikap yang berterima dengan perbedaan dan keragaman. Sekiranya NW tidak memposisikan diri sebagai ormas yang berdiri dalam merespons keragaman niscaya NW tak akan bisa eksis di tengah masyarakatnya, di tengah komunitas pengikutnya di belahan Nusantara bahkan dunia ini.
NW hadir sebagai wadah yang terdepan dalam mengawal keragaman, baik keragaman dalam bidang agama, sosial, politik dan budaya, karena NW dihadirkan oleh Maulana Syaikh untuk mewujudkan keharmonisan dan kebersamaan berikut keberterimaan terhadap dinamika sosial masyarakat Nusantara dan masyarakat dunia sekaligus.
NW menjadi bagian dari partner negara dalam merekatkan NKRI dalam berdaulat kebangsaan melalui doktrin Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar dan falsafah hidup berbangsa dan bernegara di Indonesia serta tetap konsisten dalam keislaman dan Keummatan melalui organisasi NW ini.
NW tetap eksis sepanjang masa semenjak madrasah NWDI (khusus untuk laki-laki: 1937 M) dan Madrasah NBDI (Khusus untuk kaum Perempuan: 1943 M). yang kemudian disempurnakan dengan lahirnya NW sebagai organisasi dua madrasah induk itu, menjadi bukti betapa eksistensi dan peran perekat kebangsaan dan Keummatan NW dinikmati oleh anak negeri ini, dulu, kini dan nanti.

C. NW KHIDMAH MENUJU RAHMATAN LIL ALAMIN.

Aduh Sayang!.
NW kembali menjadi Karya.
Cita-citanya setinggi mustawa.
Semoga tercapai jannatul ma’wa.
Bi’aunillahi Robbil Baroya. (WRM: 4.h.70)
Wahai Anakku kalian Abituren.
Marilah bersatu sebagai kemarin.
Kembali bersatu di satu ‘aren’.
Sungguh NW mu Bapakmu yang tulen. (WRM: 5, h. 70).
Kata kunci yang ketiga ini adalah Khidmah menuju Rahmatan Lil Alamin dalam makna yang sangat komprehensif.
Pertama: Khidmah Tarbawiyyah Nahdhiyyah.
NW bergerak dalam bidang pendidikan sebagai wujud peran sentral utama NW dilahirkan. NW dengan lembaga pendidikannya yang berjumlah 1650-an lembaga yang tersebar di persada Nusantara, Indonesia ini menjadi bukti perkhidmatan NW untuk anak negeri yang tak bisa dinafikan dan dipungkiri.
NW juga bergerak dalam dunia perguruan tinggi sebagai bukti NW telah siap mengorbitkan para sarjana sarjana yang berdedikasi dan berjiwa santri. Ini membuktikan betapa NW hadir dalam perkhidmatan yang tak sedikit dan tak remeh remeh, tapi NW hadir berkontribusi penuh dalam segala kapasitas dan kapabilitas yang dimiliki oleh organisasi NW.
NW hadir dalam Khidmah mencetak tunas-tunas bangsa mulai dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi bahkan bertebarannya majlis-majlis dakwah dan taklim NW di setiap tempat dan zona. Bukti NW memberikan sumbangsih yang vital untuk kemajuan anak negeri, anak bangsa dan ummat manusia secara universal.
Kedua: Khidmah Jam’iyyah Nahdhiyyah.
Perkhidmatan keorganisasian telah dimulai sejak NW dihadirkan oleh Maulana Syaikh pada tanggal 1 Maret 1953 M, meski secara embrional telah berkhidmah sejak 1934 dengan Pesantren Al-Mujahidin, kemudian Madrasah NWDI 1937, NBDI 1943. yang intinya dikuatkan melalui mekanisme organisasi NW yang secara Legal telah terdaftar di Lembaran Administrasi Negara, terdaftar di Departemen Kehakiman RI dengan nama Perserikatan Nahdlatul Wathan (N.W) yang sampai hari ini NW menyebarkan sayap perjuangan nya dan sayap perkhidmatannya di 34 Provinsi dengan Struktur Kepengurusan Pengurus Wilayha NW yang lengkap tanpa rekayasa apalagi tipu-tipu. Begitu juga terbentuknya Badan Otonom NW dan Lembaga NW diberbagai penjuru Indonesia. Kini PW NW se-Indonesia terbentuk secara mekanisme organisasi NW yang termaktub dalam AD ART NW , sehingga dengan terbentuknya PW NW secara lengkap di Indonesia, membuktikan NW telah diterima oleh elemen masyarakat yang saling bersinergi dan support untuk kemajuan dan keharmonisan anak negeri melalui Organisasi NW.
Perkhidmatan NW secara organisatoris juga sudah terbentuk secara resmi di Perwakilan NW luar negeri: Arab Saudi, Mesir, Maroko, Sudan, Yaman, Brunai, Malaysia. dan akan menyusul negara negara yang lain untuk mewujudkan perkhidmatan NW di persada dunia. Khidmah Jam’iyyah ini telah menghasilkan beberapa lembaga-lembaga pendidikan, sosial dan dakwah di Nusantara sebagai bagian dari perjuangan keislaman, kebangsaan dan Keummatan oleh NW yang memiliki tagline karya khas Maulana Syaikh:
نهضة الوطن فى الخير نهضة الوطن فاستبقوا الخيرات.
NW penebar kebaikan dan keberkahan kemanfaatan juga NW selalu berikhtiar kolektif dalam kompetisi kebaikan untuk anak negeri.
Ketiga: Khidmah Jam’iyyah (Khidmah Sosial). NW hadir menjawab problematika sosial. NW hadir menjadi pemecah masalah kemiskinan, NW hadir menjadi pencegah kematian bayi dan ibu melahirkan dengan gerakan KB Nasional BKKBN, NW hadir mengatasi kekurangan pangan dengan gerakan gogorancah sehingga NTB surplus pangan, NW hadir mengatasi kekurangan gizi penduduk dengan program gerakan makan makanan bergizi, NW hadir dalam perkhidmatan sosial dengan menampung anak-anak yatim piatu, anak-anak jalanan, anak-anak terlantar dengan dibuatkan wadah Panti Sosial atau LKSA diberbagai belahan provinsi di Indonesia. Ini bukti konkrit NW berkhidmah dalam sosial kemasyarakatan. Hari jadinya yang ke 69 ini momentum untuk merevitalisasi peran perkhidmatan NW menuju kesuksesan dan keberhasilan yang optimal dan maksimal.
Keempat: Khidmah Dakwah Islamiyah.
Peran perkhidmatan NW dalam bidang Dakwah Islamiyah ini sangatlah urgen dan signifikan perannya.
Peran dakwah konvensional melalui pengajian majlis taklim secara tabligh langsung telah semarak di berbagai penjuru Nusantara. Begitu juga NW hadir dengan dakwah medsosiyyah, dakwah onliniyyah, Dakwah YouTubiyyah, Dakwah TV dengan menggunakan channel resmi NW OFFICIAL, NW TV, NW ONLINE, media cetak dan elektronik NW, Website. www.nw.or. id, yang disajikan oleh Lembaga Teknologi dan Informasi NW sebagai bentuk respon terhadap perkembangan teknologi informasi dan komunikasi global.
NW hadir sebagai bagian dari peran trilogi pergerakan NW: Pendidikan, Sosial dan Dakwah.
Kelima: Khidmah Siyasiyyah al-mashlahatiyyah.
Perkhidmatan NW dalam rekam jejak politik kebangsaan adalah sebagai bukti NW meski tidak berapiliasi kepada partai politik, namun tidak bisa dipisahkan dari elit-elit NW yang terjun ke dunia politik praktis, seperti yang dicontohkan oleh Maulanassyaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid al-Anfanany dalam dunia politik kebangsaan, seperti Masyumi (1955), Golkar 1968- era Orde baru), Politik Diam, 1982, dan begitu juga pasca wafatnya pendiri NW, Elit NW bertebaran di partai politik, seperti Golkar, PBR, PPP, PKB, Hanura, Gerinda, dll. Ini bukti secara elitis kader-kader NW ambil bagian dalam perkhidmatan politik kebangsaan dalam upaya ikut serta memberikan kontribusi konstitusi terhadap negara yang dibangun berdasarkan demokrasi Pancasila dimana NW tidak bisa dinafikan peran perkhidmatannya dalam politik kebangsaan baik skala regional maupun skala nasional.

D.Revitalisasi Peran sentral NW Menuju Rahmatan Lil Alamin.
NW dengan sikap inklusif nya terus akomodatif dengan persoalan kehidupan masyarakat, baik masyarakat nasional maupun masyarakat internasional dengan mengedepankan prinsip Islam Rahmatan Lil Alamin, Islam yang ramah lingkungan, Islam yang ramah budaya, Islam yang ramah tradisi, Islam yang ramah ekonomi, politik dan pertahanan-keamanan. NW hadir dalam kapasitas keterbukaannya dengan segala realitas sosial yang berkembang. NW tak pernah menganut faham radikalisme, terorisme, faham fundamentalisme, faham rigid, kaku, stagnan, di mana yang secara umum faham ini tak bisa berterima dengan faham-faham maenstream masyarakat secara umum.
NW selalu mengedepankan kepentingan masyarakat banyak dari pada kepentingan pribadi yang tentu mengacu pada prinsip kemaslahatan umat yang lebih baik dan lebih besar. NW terus menebar keharmonisan dalam beragama, berbangsa dan bernegara. Maka itulah sebabnya NW harus terus menggema di persada Nusantara bahkan dunia dalam kifrahnya membangun peradaban Keislaman Kebangsaan dan Keummatan dalam bingkai NKRI yang berdasarkan pemahaman Islam yang inklusif dan transformatif guna menggapai cita-cita ilahiyyah dan insaniyyah, Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafuur.
بلدة طيبة و رب غفور .
Sekali lagi, Selamat Hadi ke-69 organisasi NW tercinta. Semoga jaya dan sukses sepanjang masa untuk menegakkan amar makruf nahi mungkar dalam wawasan Islam Rahmatan Lil Alamin. Amin.

Bagikan Berita

Share this post