Lombok Timur, SR – Momentum Hari Guru Nasional yang jatuh pada setiap tanggal 25 November diharapkan mampu menjadi pematik spirit atau penyemangat bagi para guru dalam upaya kembali menggalakkan pentingnya penerapan moral atau akhlak peserta didik di dunia pendidikan.
Akhlak yang di dalam tataran kurikulum dinamakan karakter merupakan prioritas pendidikan yang fundamental yang harus tetap terpelihara di setiap sekolah di Indonesia.
Hal itu diperkuat Undang Undang No.20 Tahun 2003 yang salah satu isinya mengedepankan nilai keagamaan selain juga nilai kultural dan kemajemukan suatu Bangsa. Artinya, baik buruknya pendidikan ilmu agama yang diterima akan mencerminkan bagaimana akhlak atau karakter moral peserta didik dikesehariannya.
Lagi – lagi kemudian peran gurulah disini yang menjadi kunci utama dalam mewujudkan harapan itu. Dimana, era globalisasi dengan segala kecanggihan perangkat Dunia Digitalisasi mengharuskan para guru untuk kreatif, inovatif dan waspada. Mengingat sukses tidaknya peserta didik tidak terlepas dari jerih payah seorang guru di sekolahnya.
“Guru memang bukan orang hebat, akan tetapi semua orang hebat adalah berkat jasa dan perjuangan seorang guru”, ungkap Kadis Dikbud Lotim Izzudin di ruang kerjanya, Jum’at, (25/11) lalu .
Dikatakannya, satuan pendidikan diarahkan agar kembali mendekatkan peserta didik kepada ilmu agama. Dinas Dikbud optimis, jika pendidikan agama yang diajarkan di sekolah sebagai pondasi awal diterapkan dengan baik, maka akan lahir pula akhlak atau moral yang baik pula.
“Kalau kita melihat tujuan pendidikan kita yang sudah diamanahkan dalam undang-undang, pendidikan karakter atau akhlak sudah masuk di sana tinggal keistiqomahan dan kesabaran para guru dalam mengaplikasikanya,” tambah Izzudin.
Masih kata dia, saat ini Dinas Dikbud Lotim sudah memberi ultimatum semua Satuan Pendidikan dari TK/PAUD, SD dan SMP untuk menerapkan apa yang menjadi arahan Bupati Lotim sejak awal menjabat 4 tahun silam.
Dimana saat itu, Bupati Lotim H.M. Sukiman Azmy juga sudah menginstruksikan semua satuan pendidikan untuk melaksanakan dua program penting yakni “Pagi Mengaji” dan menunaikan “Sholat Berjamaah” bagi yang siswanya beragama Islam saat azan berkumandang.
Sementara untuk siswa non Muslim, Dinas Dikbud meminta setiap kepala sekolah agar memberikan ruang bagi siswanya tersebut dalam mempelajari kitab mereka sesuai agama dan kepercayaannya. Sehingga selalu ada waktu untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa yang memungkinkan siswa berpikir panjang dalam melakukan hal – hal yang negatif.
Izzudin optimis jika dua imbauan Bupati itu rutin dan istiqomah dilakukan setiap sekolah, maka sekolah akan mempu melahirkan generasi masa depan yang mengedepankan akhlak dan sopan santun yang baik dalam kesehariannya. Mengingat saat ini hal itu dirasakan sudah mulai kendor dan perlu di perkuat lagi akibat perubahan tingkah laku anak yang dipengaruhi banyak faktor salah satunya pengaruh digitalisasi atau handphone android.
“Jika ahlak siswa sudah baik, maka kita akan mampu mengimbangi derasnya moderenisasi dan pengaruh negatif yang ditimbulkan dunia digital,” terangnya.
Selama ini, Dinas Dikbud tetap melakukan upaya monitoring, menggerakkan semua Kepala UPT Dikbud dan kepala sekolah agar menerapkan imbauan Bupati tersebut.
“Kalau hanya nasehat masuk kanan keluar kiri, jiwa merekalah yang seharusnya dibersihkan dan salah satu cara adalah mengaplikasikan arahan Bapak Bupati”, imbuhnya.
Lebih jauh disampaikannya pengaruh digitalisasi tidak boleh diremehkan, semua guru harus tetap waspada dan tidak boleh bosan dalam memberikan nasehat bagi muridnya saat memulai dan saat usai jam pelajaran sekolah.
Terkait adanya beberapa anak didik yang berkelakuan tidak baik, dikatakannya butuh keistiqomahan dan kesabaran yang tinggi bagi para guru. Mengingat sejatinya tidak ada anak terlahir kotor, mereka fitrahnya adalah suci. Hanya saja hal – hal yang diluar norma terjadi pada sebagian Siswa karena disebabkan banyak faktor baik eksternal maupun internalnya.
“Tugas guru memang berat lebih lebih diera digitalisasi ini, tapi insyaAllah kalau kita kerjakan dengan ikhlas semua akan berdampak baik dikemudian hari dan semua akan dicatat sebagai ladang amal disisi Allah SWT,” tutur Izzudin.
Kadis Dikbud ini juga tidak setuju manakala ada sekolah yang sampai melakukan skorsing atau sampai mengeluarkan siswa dari sekolahnya pada saat salah satu siswanya tersebut terlibat masalah atau melakukan hal yang tidak terpuji.
“Kita yang kurang waspada, kurang perhatian dan sebagai seorang guru jangan pernah melihat siswa kita dengan cara yang berbeda, pilih kasih misalnya, semua harus kita perlakukan sama,” tegasnya.
Ditengah keberagaman, ia meminta semua kepala sekolah dan guru agar memperlakukan siswa dengan perlakuan yang sama. Mengingat bisa jadi hal – hal yang kurang baik yang terjadi pada anak juga disebabkan karena kecemburuan sosial atau sang anak kurang mendapatkan perhatian yang sama seperti anak didik lainnya.
Hari guru adalah momentum untuk berbenah. Dinas Dikbud pun berjanji dari tahun ke tahun akan terus meningkatkan mutu pendidikan dan akhlak bagi siswa TK/PAUD, SD dan SMP di Lotim. Sehingga kedepan harapannya akan bisa melahirkan generasi – generasi yang berilmu dan ber akhlak mulia.
“Kita belum terlambat, banyak kegiatan – kegiatan yang bisa dilakukan dalam mempertahankan akhlak siswa. Pendekatan kita harus lebih kepada pendekatan religius”, tutupnya. (Yat)
Hari Guru Nasional, Dikbud Lotim Tekanan Akhlaq dan Karakter Siswa