Mataram suararinjani.com – Sekretaris Jendral (Sekjen) Kementrian Agama (Kemenag) RI, Prof Dr Nizar Ali, mengatakan revolusi industri 4.0 telah mendorong terjadinya banyak perubahan secara pundamental di segala sektor. Hal ini tentu saja berdampak pada berubahnya ekosistem pendidikan di lingkungan kita. Ada beberapa perubahan pundamental yang harus dilakukan, pertama, berubahnya pola hidup manusia. Revolisi industri 4.0 telah mendorong terjadinya perubahan secara massif yang ekstrim terhadap pola hidup banyak orang . Hampir tidak adalagi tugas keseharian kita yang tidak dibantu oleh teknologi. Perubahan prilaku hidup ini mendorong perubahan ekspektasi masyarakat terhadap tatakelola lembaga pendidikan.
“Lembaga pendidikan dituntut untuk dapat melakukan berbagai inovasi berbagai teknologi dalam menghadirkan layanan pendidikan kepada masyarakat,” katanya saat memberikan sambutan pada Wisuda ke 26 Intitut Agama islam Hanzanwadi NW Lombok Timur di Naramada Convention Hall, Mataram, Sabtu (09/12).
Kedua, berubahnya ekosistem dunia kerja yang pada akhirnya mendorong hadirnya berbagai profesi baru dan menghilangkan profesi lama yang tidak lagi relevan. Saat ini kita telah saksikan lahirnya berbagai aneka pekerjaan baru yang menggunakan basis teknologi. Kehadiran berbagai platpom market place/pasar online, seperti shope, lazada bahkan Gojek contoh nyata perubahan di sektor ekonomi yang diakibatkan oleh revolusi industri 4.0. Kondisi ini tentu juga akan mengubah ekspektasi masyarakat terhadap pelaksanaan pendidikan sebagai pranata sosial dalam membentuk individu-individu unggul di masa mendatang. Lembaga pendidikan harus mampu merumuskan, mereformasi pendidikan. Apasaja yang dibutuhkan oleh lulusannya supaya tetap relevan dengan tuntutan masyarakat.
“Jadi untuk menjadi tetap relevan merupakan harga mati jika lembaga pendidikan kita ingin tetap eksis di tengah arus perkembangan teknologi saat ini. Adaftif dengan berbagai perkembnagan teknologi adalah satu-satuanya upaya supaya keberadaan kita tetap relevan di masyarakat,” tegasnya.
Ke tiga, lanjut Nizar, berubahnya ekosistem pendidikan. Tanpa pandemi covid-19 sekalipun dunia pendidikan akan bergerak ke arah mengintegrasikan teknologi terhadap proses pembelajaran. Kehadiran covid-19, hanya mempercepat kita saja ke arah digitalisasi dan otonomisasi pendidikan. Teknologi tidak hanya menjadi media menyampaikan pembelajaran, justeru teknologi sumber belajar itu sendiri. Dengan bantuan teknologi semua orang bisa mengakses sumber pengetahui dari mana saja dan kapan pun. Dengan peran teknologi ini perguruan tinggi akan menjelma sebagai smart campus yang dapat menjamin mahasiswa akan terkoneksi dengan lingkungan di mana mereka tumbuh dan berkembang.
“Untuk itu, saya berharap kampus IAIH NW Lombok Timur dapat melakukan berbagai inovasi tatakelola dan proses pembelajaran untuk menjelma sebagai smart campus. Berupaya mengadirkan ekosistem pembelajaran yang adaftif dengan perkembangan teknologi informasi,”harap Sekjen Kemenag.
Untuk mewujudnya hal tersebut, katanya, maka IAH NW Lotim perlu melakukan pembenahan beberapa aspek, pertama, pengembangan sarana dan prasarana (sarpras) teknologi. Tidak dapat dipungkiri era saat ini, sarana prasarana perguruan tinggi harus berorientasi kepada penguatan infrasktruktur teknologi informasi.
“Kedepan, kelas konvensional yang saat ini masih kita butuhkan akan hilang digatinkan dengan kelas virtual. Saat ini adalah masa yang paling tepat bagi perguruan tinggi untuk membangun infrastruktur teknologi informasi untuk mendukung smart campus,” tandasnya.
Kedua, meningkatkan kualitas SDM tenaga dosen. Mentalitas dalam hal ini dosen dan tenaga kependidikan akan memengaruhi keberhasilan perguruan tinggi dalam merespon tuntutan masyarakat. Tugas kita sebagai pendidik adalah untuk mengantarkan mahasiswa kita ke masa depan bukan tentang pengalaman-pengalaman masa lalu kita.
“Maka terus belajar adalah satu-satunya cara bagi kita untuk dapat menunaikan tugas sebagai pendidik yang dibutuhkan anak-anak didik kita. Terus belajar adalah untuk membuat perguruan tingi tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat dan perubahan saat ini.
Ke tiga, pengembangan kurikulum berbasis kompetensi abad 21. Lulusan kita harus melek literasi baru yaitu literasi data yakni kemampuan untuk membaca, menganalisis dan menggunakan informasi big data di dunia digital. Ke dua, literasi teknologi, yakni memahami cara kerja teknologi, mengetahui perkembangan teknologi dan mampu menafaatkan teknologi untuk dapat menciptakan lapangan pekerjaan, karena itu sangat penting adanya pendidikaan kewirausahaan.
“Sarjana jangan hanya siap mengisi lapangan kerja tapi dapat menciptakan lapangan kerja. Ini pentinganya pendidikan kewirausahaan dan interaksi yang intensif dengan dunia industri,”pungkas Nizar. (sr1)