ZODIAK DALAM PERSPEKTIF SAINS DAN ISLAM

ZODIAK DALAM PERSPEKTIF SAINS DAN ISLAM

Oleh Nur Hasanah
Mahasiswa S3 pendidikan IPA

Bagi sebagian orang, zodiak menjadi topik pembicaraan yang menarik. Seperti yang dapat kita lihat, ramalan zodiak muncul di berbagai media, seperti majalah, televisi, bahkan platform digital. Zodiak banyak dipercayai orang sebagai panduan untuk menentukan kepribadian seseorang, hubungan dengan orang lain, sampai dengan keputusan hidup. Astrologi disebut-sebut sebagai cabang ilmu yang mempelajari zodiak. Namun sebenarnya, astrologi ini bukanlah ilmu pengetahuan melainkan hanya sebatas praktik budaya. Astrologi berbeda dengan astronomi. Astrologi yang menjadi dasar sistem zodiak merupakan sebuah kepercayaan bahwa posisi benda langit seperti bintang dan planet dapat mempengaruhi kehidupan manusia. Walaupun sebenarnya astrologi ini tidak memenuhi standar metode ilmiah. Astrologi berbeda dengan astronomi. Astronomi merupakan ilmu yang berbasis pada pengamatan, eksperimen, dan data untuk memahami alam semesta. Masyarakat seringkali tidak dapat membedakan astrologi dan astronomi sehingga menganggap bahwa zodiak adalah bagian dari ilmu pengetahuan.

Syarat suatu hal dapat dianggap sebagai ilmu pengetahuan (sains) diantaranya logis, empiris, dapat diverifikasi, dan dapat direplikasi. Logis artinya ilmu pengetahuan memiliki penjelasan yang dapat diterima oleh nalar manusiadan tidak bertentangan dengan prinsip logika. Empiris artinya ilmu pengetahuan harus didasarkan pada pengamatan yang nyata. Pengetahuan diperoleh melalui observasi, eksperimen, dan analisis data. Dapat diverifikasi artinya ilmu pengetahuan harus dapat dibuktikan kebenarannya. Dapat direplikasi artinya ilmu pengetahuan dapat dilakukan ulang oleh orang lain dan menghasilkan hasil yang sama. Zodiak yang berasal dari konsep astrologi tidak dapat dikategorikan sebagai ilmu pengetahuan (sains) karena alasan-alasan berikut:

  1. Tidak konsisten secara astronomi

Astrologi tidak konsisten secara astronomi karena pembagian 12 tanda zodiak berdasar rasi bintang tidak sesuai dengan fenomena presesi bumi yakni peristiwa pergeseran sumbu rotasi bumi yang disebabkan oleh tarikan gravitasi matahari dan bulan. Hal ini menyebabkan tanggal zodiak tidak lagi sesuai dengan posisi actual Bintang di langit.

  1. Tidak didukung oleh bukti empiris

Sejauh ini tidak ada hubungan statistic yang signifikan antara tanda zodiak seseorang dan kepribadian atau kehidupannya. Hal ini diperkuat dengan penelitian-penelitian yang dilakukan dengan menggunakan alat tes psikologi yang tidak mendukung klaim astrologi. Kepercayaan terhadap astrologi atau zodiak ini timbul hanya karena adanya efek Barnum, yakni mekanisme psikologi dari ilusi kognitif yang efektif (Gerhard Mayer, 2019). Astrologi hanya bersifat ramalan yang menggunakan persepsi ekstrasensori atau intuisi yang memainkan peran penentu dalam ramalan tersebut. Tidak ada bukti empiris tentang kebenaran ramalan dalam astrologi ini.

  1. Adanya bias kognitif

Banyak orang mempercayai zodiak walaupun tidak ada dasar ilmiahnya. Hal ini dapat disebabkan karena zodiak menyediakan narasi sederhana yang dapat membantu manusia memahami kehidupan mereka. Zodiak juga memberikan kontrol terhadap masa depan sehingga akan memberi sugesti kepada manusia. Dalam hal ini kadang-kadang zodiak juga memberikan motivasi kepada manusia untuk menghadapi masa depan mereka. Dalam hal ini zodiak dapat bersifat sebagai kepercayaan subjektif dan bukan sebagai ilmu pengetahuan.

Sementara itu, dari perspektif Islam, mempercayai zodiak merupakan perbuatan yang dilarang agama. Mempercayai zodiak dapat menentukan nasib, rezeki, jodoh, bahkan masa depan secara pasti sangat bertentangan dengan akidah Islam. Keyakinan terhadap zodiak dapat masuk dalam kategori syirik. Hal ini karena hanya Allah yang mengetahui takdir manusia, seperti dalam firman Allah dalam surat An-Naml ayat 65 sebagai berikut:

Katakanlah: Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib kecuali Allah…” (QS. An-Naml: 65).

Firman Allah tersebut menyatakan bahwa hanya Allahlah yang mengetahui segala hal yang ghaib. Tidak ada makhluk ciptaan Allah yang dapat mengetahui hal-hal yang belum terjadi. Selain firman Allah tersebut juga terdapat hadist untuk tidak mempercayai ramalan, sebagai berikut:

“Barang siapa yang mendatangi peramal atau dukun, lalu mempercayai ucapannya, maka sungguh dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.”
(HR. Ahmad).

Islam mengajarkan kepada umatnya untuk bersandar kepada Allah dalam setiap hal melalui usaha dan doa sesuai dengan firman Allah sebagai berikut:

“Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”
(QS. Al-Insyirah: 8).

Dengan demikian, percaya dan bergantung pada zodiak bertentangan dengan firman Allah SWT tersebut.

Bagikan Berita

Share this post