Lombok Timur suararinjani.com – Pimpinan Pusat (Pimpus ) Muslimat Nahdlatul Wathan (Muslimat NW) menggelar perinagtan Hultah ke 83 Madrasah Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI, di Halaman Masjid Jamik Darul Quran wal Hadist Pondok Pesantren Syaikh Zainuddin NW Anjani, pada Minggu (19/04/2026).
Hadir pada acara tersebut Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Hj. Arifatul Choiri Fauzi, sejumlah anggota DPRRI Komisi 8, Ketua Umum PBNW dan sejumlah tamu pengting lainnya.
Menteri PPPA Hj. Arifatul Choiri Fauzi, dalam sambutannya, menyampaikan selamat dan apresiasi atas keberadaan Madrasah Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI).
Kurun waktu delapan dekade ini, Madarasah NBDI telah menunjukan peran yang strategis dalam penguatan nilai-nilai keagamaan, kebangsaan, pemberdayaan masyarakat, penguatan solidaritas sosial serta kontribusi nyata dalam pembangunan nasional.
“Ini adalah bukti keteguhan, konsistensi dan dedikasi dalam membangun pendidikan, khususnya bagi perempuan untuk menanamkan nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan,” katanya.
Menurut Mentri PPPA, NBDI ini adalah warisan yang harus kita jaga, kita rawat dan kita lanjutkan dengan penuh tanggungjawab. Muslimat Nahdlatul Wathan memiliki peran yang luar biasa dalam melahirkan generasi-generasi bangsa yang berkualitas di masa yang akan datang. Di sinilah letaknya peran strategis kaum perempuan itu.
Menurut data BPS kita, sekitar 49% perempuan dan anak – anak sekitar 31%. Artinya lebih dari 60% penduduk Indonesia adalah perempuan dan anak-anak.
“Saya ingin mengajak ibu-ibu yang hadir di sini, jagalah anak-anak kita. Jagalah perempuan-perempuan kita dan jagalah keluarga kita. “Alummu Madrosatul Uula.” Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anak,” ujar Menteri Arifatul.
Presiden Prabowo, kata Menteri PPPA, memberi perhatian kepada anak-anak Indonesia. Mulai tahun ini bahwa anak Indonesia di bawah 15 tahun tidak diperbolehkan memiliki akun media sosial.
“Anak –anak Indonesia dihadirkan Sekolah Rakyat, dan anak-anak Indonesia dipastikan tidak ada yang kekurangan gizi,”pungkasnya.
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (PBNW) DR KH Muhammad Zainuddin Atsani, dalam irsyadatnya menceritakan sejarah berdirinya Madrasah NBDI sebagai madrasah untuk perempuan pertama di NTB yang didirikan almagfurulah Maulanasyaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid tanggal 21 April 1943.
“Maulanasyaikh meletakan dasar pemikirannya bahwa kaum perempuan bukan pelengkap sejarah, melainkan subjek utama peradaban, bukan hanya pendamping tetapi penggerak dan sebagai penerus perjuangan,” tegasnya.
Sebelumnya, Ketua Pimpinan Pusat (Pimpus) Muslimat NW sekaligus anggota DPR-RI Fraksi Gerindra, Hj. Lale Syifaunnufus, dalam pidatonya menyampaikan Madrasah NBDI adalah lembaga emansipatoris pertama di NTB. Madrasah NBDI 1943 laboratorium inspirasi pemberdayaan perempuan Nusantara.
“Lahirnya NBDI menjadi bukti bahwa madrasah atau sekolah perempuan tidak menunggu Indonesia merdeka untuk bergerak. Mereka melawan dengan ilmu, papan tulis menjadi senjata, santri jadi pasukan,” tandasnya. (vin)