Lombok Timur suararinjani.com – Jalan K.H.Hasyim Ashari Lendang Bedurik dan Simpang Tiga Pasar Klape Kembang Sari adalah dua titik vital aliran air yang selalu menjadi sorotan dan dikeluhkan warga pengguna jalan. Bagaimana tidak, setiap ada kiriman air dari hulu yakni dari arah sekitaran Kuang Manget dan Sekarteja, dua titik ini dipastikan akan tergenang air dan airnya disertai kotoran sampah rumah tangga akan meluap ke jalan raya hingga menyebabkan kemacetan.
“Jalan ini (Jalur K.H.Hasyim Ashari _red) adalah potret terburuk Kota Selong, karena tidak jarang kami lewati selalu ada genangan air dan tumpukan sampah berlumpur di pinggirnya, padahal di sebelahnya ada Sungai, yang ke arah Utara juga ada sungai”, ucap salah seorang pengguna jalan inisial SY.
Menanggapi hal itu, Camat Selong Baiq Widiani Astuti, mengatakan saluran drainase yang ada di Jalan K.H.Hasyim Ashari Lendang Bedurik dan Simpang Tiga Pasar Klape tersebut memang sudah banyak yang mengalami sedimentasi dan pendangkalan. Namun pihaknya tidak pernah berdiam diri dan terus memantau lokasi lebih lebih saat musim penghujan datang.
“Kalau turun hujan, orientasi kami pasti ke dua titik ini, Simpang tiga Pasar Klape sama Jalan yang di Lendang Bedurik”, tuturnya kepada Media ini, Rabu (27/03).
Ia menambahkan, dari hasil pantauan dan penulusuran Porkopimcam Selong setelah dilakukan gotong royong beberapa waktu lalu. Banyak sekali ditemukan sampah sampah kiriman yang diangkat dari jalur drainase. Air tidak dapat mengalir ke sungai atau kali yang ada di sebelahnya karena beberapa faktor. Diantaranya banyak sekali warga yang rumahnya berada di sekitar aliran Drainase yang sudah membeton permanen drainase.
Sehingga petugas kesulitan untuk mengangkat sampah yang ada dibawahnya. Faktor lainnya imbuh Baiq Widi adalah ada dibeberapa titik yang di aliri oleh air salurannya sudah rusak atau ambruk, sehingga menyebabkan air meluap ke jalan raya.
“Sudah beberapa kali kami laporkan ke PUPR dan Pihaknya sudah menurunkan petugas dengan membawa alat berat. Tapi agak kesulitan alat berat itu bekerja karena diatasnya banyak kabel listrik , kabel telpon dan pohon, kalau dipaksakan dikhawatirkan kabel itu akan putus sehingga dipending dulu”, terangnya.
Mengatasi permasalahan itu, pihak Kecamatan pernah melakukan beberapa kali gotong royong. Bahkan untuk Simpang Tiga Pasar Klape, Tim TABAH yang dibentuk Pemerintah Daerah sudah pernah di terjunkan. Selain juga mencari permasalahan ke titik Hulu dengan melibatkan Lurah dan Para Pekasih Pertanian.
Pihaknya bersama Dinas PUPR dan Dinas Lingkungan Hidup juga sudah melakukan Assessment guna mencari titik permasalahannya.
Selain itu pihaknya juga sudah mengusulkan permasalahan tersebut melalui Aplikasi Sistem Informasi Pelayanan Publik (SIPP) yang akan dibawa ke Musrembang. Dengan tujuan agar kedepannya bisa dilakukan normalisasi dua titik urgen yakni aliran drainase di simpang tiga Pasar Klape dan Jalan KH.Hasyim Ashari.
“Kami sudah usulkan dua masalah ini melalui aplikasi SIPP yang kami bawa ke Musrenbang pertama drainase yang ada di Pasar Klape dan yang kedua drainase yang ada di jalan KH.Hasyim Ashari ini”, tandasnya.
Terakhir disampaikannya agar masyarakat yang ada disekitar aliran drainase sadar diri untuk tidak membuang sampah rumah tangga. Mengingat rata rata sebagian besar sampah yang ditemukan petugas saat drainase atau got dibersihkan adalah sampah rumah tangga.
“Kembali ke kesadaran masing masing, jangan saling menyalahkan karena ini menjadi tugas dan tanggung jawab kita bersama, bukan hanya pemerintah tapi kita semuanya,” pungkasnya.(Yat)