Lombok Timur suararinjani.com – Gonjang ganjing soal data penerima modal bantuan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang diduga banyak tidak tepat sasaran terus menjadi buah bibir masyarakat Lombok Timur, baik di dunia maya/ medsos maupun diskusi-diskusi WAG.
Salah seorang Badan Permusyawaratan Desa (BPD) di wilayah Kecamatan Sukamulia mengungkapkan, data penerima bantual modal UMKM di desanya adalah sebagian besar bukan pedagang atau pelaku UMKM, bahkan tidak ada niatan menjadi pedagang, sehingga masyarakat yang benar-benar pelaku usaha kecil malah tidak terjangkau dalam bantuan yang digelontorkan Bupati Lombok Timur, H haerul Warisin.
“Masyarakat ramai-ramai komplain kepada pihak desa kenapa dirinya yang pelaku usaha kecil yang sebenarnya tidak dapat, sedang yang bukan pelaku usaha malah dapat. Kami sudah sampaikan pihak desa tidak tahu menahu soal nama-nama yang dapat itu (modal UMKM),” katanya menjawab warga, saat dihubungi pada Sabtu (29/11).
Ia juga menambahkan, kami kemudian meminta staff desa yang menangani soal surat rekomendasi atau surat keterangan usaha (SKU) dari desa, namun mereka juga mengatakan tidak pernah membuatkan rekomendasi atas nama-nama yang keluar mendapat modal UMKM itu.
“Setelah kami telusuri memang ada dugaan ikut campur mantan kordes H Iron – H Edwin waktu pilkada itu yang bermain terkait rekomendasi. Ini bahaya sekali citra desa kepada masyarakat. Masyaraat hanya tahu pihak desa yang mengusulkan dan merekomendasikan, padahal kami tidak tahu menahu,” tegasnya.
Hal senada juga diungkapkan salah satu kepala wilayah di Kecamatan Lenek yang juga tidak tahu siapa yang mendata penerima bantuan modal UMKM ini, tapi yang jelas kita cukup kaget, melihat data untuk Kecamatan Lenek ini paling sedikit warganya dapat bantuan modal UMKM ini.
Kita pertanyakan kenapa lebih besar penduduk Kecamatan Pringgasela dari pada Kecamatan Lenek. Kita lihat saat pembagian sembako awal tahun kemaren itu juga Kecamatan Pringgasela dapat di atas 1000 an warganya, namun kecamatan Lenek hanya kisaran 200 orang sampai 300 an saja. Sama juga dengan bantuan modal UMKM ini hanya 300 orang yang dapat.
“Ini kan terlalu jomblang bedanya dengan kecamatan lainnya. Janganlah hal-hal ini dikaitkan lagi dengan politik. Pilkada itu sudah berlalu. Jadi wajar warga beranggapan begitu (politik red) karena memang di Kecamatan Lenek perolehan suara H Iron-Edwin pada Pilkada 2024 lalu jeblok kendati juga banyak kecamatan dia kalah,”ujar Kawil yang enggan dimediakan.
Ketua Forum Rakyat Bersatu (FRB), Eko Rahadi, menyampaikan program bantuan modal UMKM ini sebenarkanya program yang bagus, namun fakta di lapangan itu yang menerima ini adalah kebanyakanorang yang tidak tepat sasaran. Contohnya, kordes-kordes SMART (sebutan tim sukses tingkat desa H Hairul Warisin- H Edwin waktu pilkada 2024) kemaren menjanjikan.
Nah, orang-orang yang dihajatkan bupati ini adalah untuk UMKM, pedagang bakulan. Nah pegadang bakulan ini kan mana pernah masuk kantor desa, mengurus surat. Untuk sehari-hari saja mereka sulit, bagaimana ada waktu untuk mengurus surat-surat semua.
“Program ini bagus, tapi nyatanya banyak para keluarga staff desa dan keluarga kordes SMART. Ini yang tidak tepat sasaran dan ini bisa dilaporkan nanti adalah gratifikasi anggaran APBD kalau ini ada unsur temuan, karena ini anggaran besar dan tidak tepat sasaran,” tandasnya.
Pemkab Lombok Timur tahun ini menggelontorkan dana stimulan modal usaha senilai Rp. 20 miliar bagi 31.000 pelaku UMKM. (sr)