Oleh : Lalu Satria Wangsa
Maulid Adat Bayan, merupakan tradisi tahunan masyarakat adat Kedatuan Bayan, dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, setiap tahun. Tahun 2025 ini, sesuai tradisi diselenggarakan tiga hari setelah tanggal 12 Rabiul Awal selama 2 hari tepatnya (14 -15 Rabiul Awal ) yang bertepatan dengan tanggal 7- 8 September 2025.
RIT- BELAJAR KETERATURAN DARI MAULID ADAT BAYAN
Pagi itu sekelompok orang nampaknya dari satu keluarga terdiri dari orang-orang tua dan anak-anak seluruhnya berbusana adat Bayan, yang khas berjalan beriringan dalam formasi satu baris memanjang ke belakang. Mereka membawa Natura hasil pertanian dan peternakan. Di depannya dan juga di belakangnya terdapat kelompok lain dengan ciri khas sama, berbusana adat, berbaris satu ke belakang, membawa Natura. Kelompok demi kelompok datang mengalir dari pagi itu hingga sore hari tiada putus. Mereka ribuan orang. Tujuannya ke satu titik, Kampu (komplek Balai Adat ) Karang Bajo – Bayan, Lombok Utara. Melintasi tanah lapang (Gegade) depan Kampu. Sesampainya di gerbang, pimpinan rombongan memberi salam kemudian satu persatu masuk ke dalam kawasan depan Kampu. Disini, disambut dengan Gong Gerantung yang berbunyi tak henti-henti sepanjang hari. Dari sini, melalui pintu berikutnya, rombongan masuk ke ruang yang lebih dalam, di mana Inan Meniq (Ibu Beras) berada. Beliau menerima Gegawan (Natura bawaan), kemudian melakukan ritual Sembeq yaitu pemberian tanda di kening dari bahan sirih pinang kepada anggota-anggota rombongan. Di luar, sekelompok pemuda berbusana adat sibuk pula membersihkan dan mempersiapkan alat-alat menumbuk padi seperti Rantok (Lesung ) dan Alu (alat penumpukan) dari bambu-bambu yang lurus dan panjang yang akan digunakan pada ritual Menutu pada waktu Rarak Daun Waru (siang menjelang sore). Ini barulah awal di Kampu Karang Bajo, sedang di Kampu-kampu lain prosesi Menutu sudah diselenggarakan pada malam sebelumnya. Dari proses-proses awal tersebut kemudian di masing-masing Kampu, melalui tahapan-tahapan dari prosesi yang panjang hingga puncak ritual pada sore hari ke 3, yang berpusat di Masjid Kuno dan penutupan pada tengah malamnya dengan sebuah prosesi.
Gambaran diatas, sebenarnya terlalu sederhana untuk menggambarkan prosesi Mulud Adat Bayan yang panjang (3 hari ) dan massif yang sesungguhnya rumit, tapi teratur, rapi dan khidmat.
RIT adalah sebuah istilah yang umum dalam masyarakat Sasak. Namun, saya belum menemukan padanan kata yang pas dari diksi RIT tersebut dalam bahasa Indonesia. Mungkin, kira-kira bermakna sebuah fenomena keteraturan, rapi, presisi, khidmat dan ajeg. Diksi Rit ini pas kita sematkan dalam prosesi Mulud Adat Bayan. Dalam pelaksanaan Maulid Adat Bayan ini sangat teratur. Siapa mengerjakan apa, dimana dan bagaimana, sangat teratur dan rapi. Dari hal-hal besar sampai hal-hal kecil. Sebuah manajemen yang berjalan seperti oleh sebuah sistem. Karenanya, meski berlangsung selama 3 hari dan melibatkan anggota komunitas yang ribuan jumlahnya Maulid Adat Bayan, dari waktu ke waktu terus terlaksana dengan teratur dan khidmat.
Dalam beberapa hal, kita mesti belajar dari RITnya Maulid Adat Bayan. Belajar dari birokrasi dan manajemen tradisional yang merupakan kekayaan lokal yang dapat diimplementasi dalam konteks dunia kekinian.
POTENSI WISATA BUDAYA YANG BELUM MAKSIMAL DIGARAP
Ada tanggapan teman bahwa sudah semestinya Maulid Adat Bayan ini dapat menjadi magnet wisata dan dijadikan event Nasional. Benar sekali. Memang, dari yang saya saksikan di dua tahun terakhir ini, belum banyak wisatawan yang datang menyaksikan momen budaya yang akbar ini. Padahal, ini acara akbar, serta ekosistemnya sangat memadai seperti momen yang dapat disaksikan oleh para wisatawan sangat melimpah, begitu juga infrastruktur wisata sangat memadai.
Dalam hal momen selama beberapa yakni terutama tanggal 14-15 Rabiul Awal atau tahun ini bertepatan dengan tanggal 7-8 September 2025, di wet paer/kawasan Adat Bayan, berlangsung prosesi-prosesi Maulid Adat, hampir tanpa jeda. Dimulai pada tanggal 6 September, malam di 4 kepembekelan yakni Karang Bajo, Bayan Timuq, Bayan Bat, Loloan, berupa prosesi Menutu (Menumbuk Padi ). Tanggal 14 Rabiul Awal, di Kepembekelan Karang Bajo, sejak pagi hari hingga sore hari berlangsung prosesi Merembun, dimana iring-iringan kelompok demi kelompok warga adat dengan berbusana adat yang khas datang membawa hasil bumi, seperti, padi, kelapa dan lain-lain, juga ternak, seperti, ayam atau kambing, bahkan sapi bagi yang nazarnya tercapai. Pada sekitar pukul 15.00 wita, diselenggarakan prosesi Menutu (menumbuk padi). Prosesi ini sepenuhnya dapat diakses oleh umum kecuali prosesi yang di dalam Kampu.
Tanggal 14 Rabiul Awal, juga pada sepanjang malam diselenggarakan ritual sekaligus atraksi Temetian (Peresean). Ini juga dapat diakses oleh umum. Tanggal 15 Rabiul Awal, siang hari diselenggarakan prosesi Bisok Menik atau mencuci beras. Sekelompok ibu-ibu dengan busana adat, berjalan beriringan dengan tertib, membawa beras menuju mata air untuk mencuci beras. Prosesi ini, juga atraksi menarik yang dapat disaksikan oleh umum.
Puncaknya, sekitar pukul 16.00 wita sore, adalah prosesi Praja Mulud, berupa iring-iringan kirab prosesi yang berangkat dari masing-masing kepembekelan, menuju satu titik yakni Mesjid Kuno Bayan. Sejak keluar dari masing-masing Kampu, di jalan hingga ke Mesjid Kuno, prosesi ini dapat diakses oleh umum, kecuali ritual di dalam Mesjid Kuno. Dengan demikian, selama 2 hari, banyak momen yang dapat disaksikan oleh umum atau wisatawan. Juga, bila tidak sempat menyaksikan Mulud Adat, di pusat Kedatuan Bayan (Bayan Beleq), di luar itu Mulud Adat, juga diselenggarakan di banyak tempat di wilayah Adat Bayan. Dalam hal infrastruktur wisata juga sangat tersedia. Tidak jauh dari pusat acara (Bayan Beleq), terdapat Desa Wisata Senaru, yang banyak menyediakan akomodasi dari yang sederhana hingga yang mewah. Sedikit lebih jauh ke timur, dengan durasi perjalanan setengah jam, terdapat Desa Wisata Sembalun, yang juga banyak menyediakan akomodasi dengan berbagai kelas. Begitu juga sedikit lebih jauh ke barat, di Kecamatan Pemenang, betebaran akomodasi dari yang sederhana hingga bintang lima, baik di daratan utama maupun di Tri Gili. Infrastruktur jalan juga dari Mataram melewati Lombok Utara, hingga Sembalun, sudah lebar, mulus dengan lengang bahkan di jalan utama Kota Tanjung, dilengkapi dengan jalan dua jalur yang lebar.
Dari segi waktu penyelenggaraan juga sangat pasti. Berbeda dengan Bau Nyale, Maulid Adat ini sudah dapat dipastikan waktu penyelenggaraan dari tahun-tahun sebelumnya, bahkan belasan hingga puluhan tahun ke depan. Dengan demikian, untuk perencanaan jadwal kunjungan wisata, dapat diagendakan dari jauh-jauh hari sejak 1 tahun sebelum penyelenggaraan. Bila, tidak hanya ingin menyaksikan Maulid Adat, di sepanjang Lombok Utara, juga terhampar destinasi-destinasi wisata seperti kampung-kampung adat, air-air terjun yang indah dan wisata alam lainnya. Kuliner? Tidak sulit dan pilihan beragam serta ada kuliner khas Lombok Utara yakni Sate Ikan Tanjung .
Atas dasar hal-hal itu, semua tidak ada alasan untuk Maulid Adat Bayan, di kawasan utara Lombok, tidak dapat menjadi event wisata budaya yang akbar, menjadi magnet para wisatawan sebagaimana Bau Nyale di kawasan selatan Lombok.
Kita tunggu action dari para stakeholder ke pariwisataan kita baik di daerah hingga Nasional.
Salam Lestari Budaya.