Lombok Utara suararinjani.com – Ratusan petani berduyun-duyun menuju bale pertemuan Sangkep Belek Montong Dewa, sebuah areal sakral yang setiap awal tahun menjadi titik mula kehidupan baru bagi sawah-sawah mereka.
Di tempat inilah ritual adat Dewasain digelar, sebuah tradisi turun-temurun yang menandai dimulainya musim tanam padi, sekaligus merawat hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Dewasain yang dilaksanakan petani Desa Gondang Kecamatan Gangga, berlangsung pada Kamis pagi 1 Januari 2026.
Bukan sekadar seremoni tahunan, ritual ini adalah filosofi hidup petani Gondang. Dalam Dewasain, menanam padi berarti menanam harapan tentang panen, ketahanan pangan, dan keberlanjutan hidup.
Prosesi diawali dengan betabek (mohon izin) di Montong Dewa. Ritual memohon izin dan keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Sang Pemilik alam semesta.
Doa-doa dipanjatkan dengan khidmat, dipimpin oleh Ahmad Rusmaidi, Ketua Lumbung Pangan Perhimpunan Petani Pemakai Air (P3A) Subak Pelopor Desa Gondang.
Dari tempat sakral itu, rombongan bergerak menuju Sangkep Belek, tepat di pintu air tersier yang menjadi pusat ritual Dewasain.
Di sinilah doa bersama dipanjatkan oleh ratusan petani dan tamu undangan, menandai penanaman padi pertama sebagai pembuka musim tanam.
Yang menghangatkan suasana adalah keberagaman yang menyatu. Para petani datang dari seluruh wilayah Subak Pelopor dengan latar belakang keyakinan berbeda—Islam dan Buddha namun berpadu dalam satu tujuan.
Doa dipimpin seorang penghulu, sementara penganut agama lain menyesuaikan dengan keyakinan masing-masing.
Harmoni lintas iman ini telah terjaga dari generasi ke generasi, menjadi kekuatan sosial Desa Gondang yang tak lekang oleh waktu.
Usai doa, kebersamaan dirayakan melalui begibung, tradisi makan bersama sebagai wujud syukur atas berkah kehidupan.
Sajian khas Gondang tersaji sederhana namun sarat makna: telur opor, ayam pelecingan, sayur lebui, dan nasi yang tertata rapi di atas dulang.
Hadir pula Kepala Desa Gondang, para tokoh agama dan adat, serta perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Utara, sebuah pertemuan lintas peran yang menegaskan pentingnya tradisi ini bagi desa.
Puncak ritual Dewasain ditandai dengan penyembelihan seekor ayam jantan putih oleh penghulu desa, dilanjutkan penanaman padi secara simbolis.
Tetua adat, kepala desa, tokoh agama, perwakilan dinas, dan tamu undangan bersama-sama menancapkan bibit padi ke tanah, sebuah simbol dimulainya kehidupan baru.
Setelah itu, tugas besar dilanjutkan oleh regu tanam ibu-ibu tani, sekitar 15 orang, yang menanam padi varietas Inpari 31 di lahan seluas 4 hektare tanah pecatu. Dari sawah inilah harapan panen dan ketahanan pangan desa dititipkan.
Bagi Ahmad Rusmaidi, Dewasain adalah lebih dari ritual adat. Ia adalah simbol kekompakan dan kedaulatan pangan petani Gondang.
“Ini adalah praktik baik yang diwariskan nenek moyang kami dan tetap bertahan hingga hari ini,” ujarnya.
Konsistensi pelaksanaan Dewasain setiap 1 Januari kalender Masehi menjadi penanda disiplin kolektif.
Selama ritual belum dilakukan, petani dilarang menanam padi. Larangan ini mengikat secara moral dan sosial; pelanggaran adat diyakini membawa mudarat. Dari gagal panen hingga sanksi sosial berupa teguran, denda, bahkan dikeluarkan dari keanggotaan P3A.
Dengan total sekitar 280 hektare sawah produktif, Subak Pelopor Gondang dikenal sebagai penyuplai utama gabah berkualitas.
Dari tanah ini lahir beras lezat yang dikenal di pasar sebagai Beras Gondang dan Beras Tanjung identitas pangan yang tumbuh dari disiplin adat dan kerja kolektif.
Kepala Desa Gondang, Supriadi, menegaskan komitmen pemerintah desa untuk terus mendukung pelestarian Dewasain. Ke depan, keterlibatan generasi muda diharapkan semakin kuat.
“Ritual ini bisa dikemas lebih kental dengan kearifan lokal, seperti penggunaan busana adat Sasak Gondang dan atraksi budaya,” ujarnya.
Lebih jauh dikatakan Supriadi, Dewasain diproyeksikan sebagai daya tarik wisata budaya. Dengan bentang alam perbukitan, hamparan sawah, pantai, serta kehadiran hotel kelas dunia di wilayah sekitar, Desa Gondang memiliki potensi besar mengembangkan pariwisata berbasis kearifan lokal.
“Di areal tanah pecatu Montong Dewa, padi ditanam bukan hanya dengan tangan, tetapi juga dengan doa, kebersamaan, dan warisan nilai. Dewasain menautkan masa lalu, hari ini, dan masa depan petani Gondang mengajarkan bahwa ketahanan pangan sejati tumbuh dari akar budaya yang dijaga bersama,” pungkasnya. (*)