Generasi Sandwich: Ketika Anak Muslim Modern Terjepit Antara Tanggung Jawab dan Ketimpangan Peran

Generasi Sandwich: Ketika Anak Muslim Modern Terjepit Antara Tanggung Jawab dan Ketimpangan Peran

Afharrozi, M.H. — Mahasiswa S3 Hukum Keluarga Islam dan praktisi konseling keluarga Islam

Dalam kesibukan kota dan derasnya arus modernitas, banyak keluarga Muslim menghadapi realitas baru: menjadi generasi sandwich. Istilah ini mengacu pada kelompok usia produktif—biasanya 25 hingga 45 tahun, yang menanggung beban ekonomi dua arah sekaligus: menghidupi anak-anaknya di satu sisi, dan menopang kehidupan orang tuanya di sisi lain. Kondisi ini bukan sekadar masalah keuangan. Ia adalah potret ketimpangan peran sosial dalam keluarga urban Muslim. Banyak yang harus bekerja siang malam, membayar cicilan rumah, biaya sekolah, perawatan orang tua, hingga tetap menjaga keharmonisan rumah tangga. Akibatnya, waktu, energi, dan spiritualitas sering terkuras habis.

Dalam Islam, berbakti kepada orang tua dan menafkahi keluarga adalah dua kewajiban besar yang sama-mulia. Allah berfirman:

“وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا” (QS. Al-Isrā’: 23).

Namun, di tengah tekanan hidup modern, dua tanggung jawab itu sering saling bertabrakan. Anak yang ingin berbakti kepada orang tua, justru kelelahan karena tuntutan kerja yang tidak manusiawi. Ibu rumah tangga ikut mencari nafkah, sementara peran pengasuhan anak sering terabaikan. Di sinilah muncul “krisis keseimbangan peran”: antara mencari nafkah, membahagiakan orang tua, dan mendidik anak sesuai nilai Islam.

Dalam perspektif sosiologi, keluarga seharusnya menjadi unit sosial yang menyeimbangkan tiga fungsi utama: ekonomi, afeksi, dan reproduksi nilai. Namun, pada keluarga urban, fungsi ekonomi sering mendominasi segalanya. Nilai kasih sayang, pendidikan karakter, dan bimbingan spiritual mulai terpinggirkan. Anak-anak tumbuh dengan gawai, bukan dengan pelukan. Orang tua lanjut usia merasa menjadi beban, bukan berkah. Inilah bentuk halus dari “krisis moral” yang lahir dari tekanan ekonomi dan hilangnya komunikasi antar generasi.

Islam memiliki panduan yang sangat indah untuk mengembalikan keseimbangan itu. Dalam QS. At-Tahrîm: 6, Allah menegaskan:

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا” —

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” Ayat ini bukan hanya seruan moral, tetapi juga konsep manajemen keluarga: menjaga spiritualitas dan kesejahteraan keluarga secara seimbang. Islam tidak hanya menuntut kerja keras, tetapi juga tawāzun — keseimbangan antara dunia dan akhirat, antara ekonomi dan kasih sayang, antara tanggung jawab dan ketenangan batin.

Ada tiga solusi nyata yang bisa dilakukan keluarga Muslim modern:

  1. Rekonstruksi peran dalam keluarga. Suami dan istri perlu berbagi tanggung jawab tanpa kehilangan identitas spiritualnya. Kepemimpinan (qiwāmah) dalam Islam tidak berarti dominasi, tetapi koordinasi penuh kasih.
  2. Menghidupkan solidaritas sosial Islam. Zakat, infak, dan wakaf produktif harus diarahkan untuk menopang keluarga rentan agar tidak terjebak dalam lingkaran “sandwich stress.”
  3. Konseling keluarga berbasis maqāṣid syarī‘ah. Pendampingan keluarga perlu diperluas, bukan hanya soal pra-nikah, tetapi juga pasca-nikah dan perawatan orang tua.

Fenomena generasi sandwich adalah ujian baru bagi umat Islam modern. Ia bukan hanya soal siapa yang harus menanggung siapa, tetapi tentang bagaimana kita menjaga nilai sakinah, mawaddah, wa rahmah di tengah tekanan ekonomi. Ketika anak bekerja keras bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga demi orang tua dan anak-anaknya, sesungguhnya ia sedang menapaki jalan kebaikan yang tinggi. Namun, jalan itu harus diarahkan dengan kebijakan, keseimbangan, dan spiritualitas.

Keluarga Muslim yang kuat bukanlah yang paling kaya, tetapi yang paling seimbang — antara harta dan hati, antara dunia dan akhirat, antara cinta dan tanggung jawab.

Penutup singkat:

Semoga tulisan ini menjadi refleksi bersama dan dorongan bagi keluarga-keluarga Muslim urban untuk menjalani peran ganda dengan penuh hikmah dan keberkahan.

Bagikan Berita

Share this post