SERAH MAYUNG SEBUNGKUL [MENYERAHKAN KIJANG SEUTUHNYA] DALAM TRADISI MAULANASSYAIKH TGKH. M. ZAINUDDIN ABDUL MADJID : SIMBOLISASI KECERDASAN, KECEPATAN, KETEPATAN, KEWASPADAAN DALAM MERAIH ILMU DAN KEADABAN.

SERAH MAYUNG SEBUNGKUL [MENYERAHKAN KIJANG SEUTUHNYA] DALAM TRADISI MAULANASSYAIKH TGKH. M. ZAINUDDIN ABDUL MADJID : SIMBOLISASI KECERDASAN, KECEPATAN, KETEPATAN, KEWASPADAAN DALAM MERAIH ILMU DAN KEADABAN.

OLEH: H. FAHRURROZI DAHLAN. QH.

PROLOG:

Mungkin ada yang bertanya-tanya dalam hati, apa relevansi dan nilai Serah Mayung Sebungkul dengan Santri/Penuntut Ilmu yang akan mengaji dan mengkaji ilmu pengetahuan?.
Kok Manusia yang diserah disimbolisasikan dengan Kijang- Rusa yang liar, [Mayung]?
Nah inilah yang perlu dianalisa dikaji dan dicermati dalam konteks kekinian dan kontemporer.
Apakah masih relevankan sistem Serah Mayung Sebungkul dengan sistem pendidikan kontemporer modern?.

Simbolisasi ilmu dengan kijang memiliki makna yang mendalam dalam berbagai tradisi dan budaya.
Ada beberapa relevansi dan filosofi yang terkait dengan istilah, “Serah Mayung Sebungkul”;
Kenapa Ilmu disimbolisasikan dengan Kijang [Mayung].

Ada ungkapan ulama yang mengatakan:

العلم صيد
Adalah sebuah ungkapan Arab yang berarti “Ilmu adalah buruan”.

Ungkapan ini menekankan pentingnya mencari ilmu dan pengetahuan, serta menekankan bahwa ilmu adalah sesuatu yang berharga dan patut dikejar.

Dalam konteks ini, kata “صيد” (shayd) memiliki makna buruan atau hasil tangkapan. Ilmu diibaratkan sebagai buruan yang harus dikejar dan ditangkap.

Ungkapan ini sering digunakan untuk mendorong orang-orang untuk mencari ilmu dan pengetahuan, serta menekankan pentingnya pendidikan dan pembelajaran dalam kehidupan.
العلم صيد والكتابة قيده # قيد صيودك بالحبال الواثقة

Artinya: “Ilmu adalah buruan, dan tulisan adalah ikatannya. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat.”

Maksudnya adalah ilmu yang diperoleh haruslah dicatat dan diingat dengan baik, sehingga tidak hilang atau terlupakan. Tulisan dan catatan adalah cara untuk mengikat dan melestarikan ilmu yang telah diperoleh.

Ungkapan ini menekankan pentingnya menulis dan mencatat ilmu yang diperoleh, serta mengingatkannya dengan baik agar tidak terlupakan. Ini juga menunjukkan bahwa ilmu yang tidak ditulis dan dicatat dengan baik dapat hilang atau terlupakan.
“فمن الحماقة أن تصيد غزالة فتفكها بين الخلائق طالقة”

Artinya: “Sungguh bodoh jika seseorang menangkap seekor kijang, lalu dia lepaskan begitu saja di tengah-tengah kerumunan manusia.”

Terkandung makna bahwa seseorang yang telah memperoleh sesuatu yang berharga, seperti ilmu atau pengetahuan, tidak seharusnya melepaskannya begitu saja tanpa diikat atau dilestarikan dengan baik. Jika tidak, maka dia akan kehilangan kesempatan untuk memanfaatkan dan membagikan ilmu tersebut kepada orang lain.
Ungkapan ini menekankan pentingnya menjaga dan memanfaatkan apa yang telah diperoleh, serta tidak membiarkannya hilang atau terbuang sia-sia.

MAKNA SIMBOLISASI MAYUNG SEBUNGKUL

Simbolisasi Ilmu dengan Kijang [Mayung].
1]. Kijang sebagai Simbol Kecerdasan: Kijang sering dianggap sebagai hewan yang cerdas dan waspada. Dalam konteks ilmu, kijang dapat melambangkan kecerdasan dan ketajaman pikiran yang diperlukan untuk memperoleh pengetahuan.

2]. Kijang sebagai Simbol Kecepatan: Kijang dikenal karena kecepatannya. Dalam konteks ilmu, kijang dapat melambangkan kecepatan dalam memahami dan mengaplikasikan pengetahuan.

Filosofi di balik Simbolisasi Mayung Sebungkul.
Pertama: Pencarian Ilmu: Kijang [Mayung] sering digambarkan sebagai hewan yang selalu mencari makanan dan lingkungan yang aman. Hal ini dapat diartikan sebagai pencarian ilmu yang tiada henti dan upaya untuk terus meningkatkan pengetahuan di pondok pesantren yang aman, nyaman, asri dan terlindungi.
Kedua: Kewaspadaan: Kijang [Mayung] dikenal karena kewaspadaannya terhadap lingkungan sekitar. Dalam konteks ilmu, hal ini dapat diartikan sebagai pentingnya kritisisme dan analisis dalam memperoleh pengetahuan.

Ketiga: Ketangkasan: Kijang [Mayung] dikenal karena ketangkasannya dalam bergerak.
Maka para penuntut ilmu harus memiliki etos dan semangat yang penuh kreatif dan dinamis dalam belajar, berdiskusi, berinteraksi dengan siapapun, terlebih dengan guru dan teman se-lingkungannya.

Dalam konteks ilmu dan ahli ilmu, hal ini dapat diartikan sebagai kemampuan untuk berpikir secara kreatif dan inovatif dalam mengaplikasikan pengetahuan.

Relevansi Serah Mayung Sebungkul dalam Kehidupan Sehari-hari penuntut ilmu:

Pertama: Pencarian Ilmu yang Tiada Henti: Simbol kijang [mayung] dapat mengingatkan kita untuk terus mencari ilmu dan meningkatkan pengetahuan, serta tidak puas dengan apa yang telah dicapai.

Kedua: Kritis dan Analitis:

Simbol kijang [mayung] juga dapat mengingatkan kita untuk selalu kritis dan analitis dalam memperoleh pengetahuan, serta tidak mudah menerima informasi tanpa analisis yang tepat.

Ketiga: Kreativitas dan Inovasi.
Simbol kijang [mayung] dapat menginspirasi kita untuk berpikir secara kreatif dan inovatif dalam mengaplikasikan pengetahuan dan memecahkan masalah.
Dengan demikian, simbol kijang [mayung] dapat menjadi pengingat yang baik untuk terus mencari ilmu, berpikir kritis, dan berinovasi dalam kehidupan sehari-hari.

Sungguh tak terpikirkan oleh kita, betapa filosofisnya istilah “SERAH MAYUNG SEBUNGKUL” yang ditorehkan oleh al-Maghfurlahu Maulanassaikh TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid di setiap momen penyerahan santri/thullab/tholibat baru dulu di hadapan al-Maghfurlahu Maulanassyaikh Hamzanwadi I.

Dalam analisa Syaikh Ibn Jauziyyah tentang akal kecerdasan bagi setiap insan, baik dalam proses keilmuan maupun dalam aspek pengamalan keilmuan, dapat dicermati bahwa mayung [kijang] itu simbol kecerdasan dan keilmuan yang substantif. Syaikh Ibn Al-Jauziyyah berkomentar banyak tentang Akal Pikiran dan kewibawaan manusia yang diberikan akal sehat oleh Allah swt.

العقل اسم يقع على المعرفة بسلوك الصواب والعلم باجتناب الخطاء فاذا كان المرء فى اول درجاته يسمى اديبا ثم اريبا ثم لبيبا ثم عاقلا. كما ان الرجل اذا دخل فى اول حد الدهاء قيل شيطان واذا عتا فى الطغيان قيل له مارد واذا زاد على ذلك قيل عبقري واذا جمع فى شدة خبثه يسمى عفريت وكذلك الجاهل اذا دخل فى اول درجاته يسمى المائق ثم الرقيع ثم الانوك ثم الاحمق
Akal itu nama yang muncul berdasarkan pengetahuan dengan jalan yang benar. Ilmu itu dengan cara menjauhi jalan yang salah.
Jika seseorang diawal tingkatan akalnya disebut dengan Adìb, baru ke level berikutnya Arîb, ke level ketiga namanya labíb baru level keempat namanya Aqîl. Laksana seseorang yang telah masuk di awal kecerdikan disebut Syaithán, jika melampui batas kecerdikannya maka disebut márid, dan jika melebihi dari watak márid disebut abqory.
Tak ubahnya seperti lafaz Jáhil, jika masuk pase pertama dinamakan, al-máiq, level kedua namanya al-raqî’,level ketiga namanya al-anwak, baru level kebodohan yang paling tinggi disebut al-ahmaq.

Lebih tegas lagi Syaikh Ibn Jauziyyah mengatakan,
وافضل مواهب الله لعباده العقل.
ولقد احسن الذى يقول:
وافضل قسم الله للمرإ عقله#
فليس من الخيرات شيء يقاربه.
اذا اكمل الرحمن للمرإ عقله #
فقد كملت اخلاقه ومآربه
يعيش الفتى فى الناس بالعقل انه# على العقل يجرى علمه وتجاربه
يزين الفتى فى الناس جودة عقله#
وان كان محظورا عليه مكاسبه. انتهى شعرا.

Pemberian Allah swt yang paling afdhol adalah akal pikirannya.
Alangkah indahnya ungkapan syair ini.
Seafdhol pemberian Allah bagi seseorang adalah akalnya# maka tak ada dari sekian kebaikan yang bisa menandinginya sedikipun.
Sekiranya Allah telah menyempurnakan bagi seseorang akan akal pikirannya# maka sungguh sudah sempurnalah akhlak budi pekertinya.
Hidupnya anak muda dengan akal yang dimilikinya # sebab dengan akalnya dia dapat berteori dan bereksperimen. Terhias indah sang pemuda itu dengan akal yang baik # meski dia kurang beruntung dalam aspek ekonominya.

Begitu juga makna serah mayung sebungkul dalam konteks kecerdasan akal pikiran yang nanti dapat diraih oleh sang penuntut ilmu itu seperti yang diungkapkan oleh Ibn Mubárak tatkala ditanya oleh teman dekatnya:
اخبرنا محمد بن سلمان بن فارس حدثنا احمد بن سيار حدثنا حبيب الجلاب قال قيل لابن المبارك ما خير ما اعطى الرجل؟ قال غريزة عقل قيل فان لم يكن قال ادب حسن قيل فان لم يكن قال اخ صالح يستشيره قيل فان لم يكن قال فطول صمت قال فان لم يكن قال فموت عاجل
Ibn Mubárak pernah ditanya, apa pemberian yang terbaik bagi seseorang?
Ibn Mubarak menjawab, Akal sehat yang cerdas. Jika tak dimilikinya, maka adab sopan santun, jika tak ada itu, maka teman yang saleh yang bisa diajak musyawarah, jika tak ada itu juga, maka lebih baik diam, jika diampun tak bisa dilaksanakan. Maka cepat-cepat mati itu yang terbaik baginya.

Makna folisofi mayung sebungkul juga dilihat dari ketepatan, kecermatan dan kewaspadaan seseorang yang diberikan ilmu pengetahuan melalui akal pikirannya.
Abu Hatim mencoba mengurai pembagian akal pikiran itu dengan dua bagian penting:

قال ابو حاتم العقل نوعان مطبوع ومسموع فالمطبوع منهما كالارض والمسموع كالبذر والماء. فالعقل الطبيعى من باطن الانسان بموضع عروق الشجرة من الارض والعقل المسموع من ظاهره كتدلى ثمرة الشجرة من فروعها.
Abu Hatim berkomentar bahwa akal terbagi dua.
Pertama: Akal Mathbu’ [Given] akal yang memang sudah tercipta sejak awal.
Kedua: Akal masmu’ [by process], akal yang muncul dari usaha manunia.
Akal tabiiyi dari dalam diri manusia laksana posisi akar pepohonan dari dalam tanah. Sedangkan akal masmu’ itu yang muncul di permukaan tanah, laksana menculnya buah pepohonan yang bergelantungan di cabang dan ranting pohon itu.

Selaras dengan ungkapan syair berikut ini:
انشدنى محمد بن اسحاق بن حبيب الواسطى
رأيت العقل نوعين# فمطبوع ومسموع
فلا ينفع مسموع اذا لم يك مطبوع
كما لا تنفع الشمس وضوء العين ممنوع.
Syaikh Muhammad bin Ishaq bin Habib al-Wasithy bersenandung syair.
Saya berpendapat bahwa akal itu dia bagian. Akal Mathbu’ dan akal masmu’.
Maka akal masmu’ tak akan ada gunanya, jika akal matbhu’ tidak ada. Laksana tak ada gunanya matahari bagi orang yang terlahang sinar matanya.

Lebih lanjut Syaikh Ibn Jauziyyah menerangkan arti kegigihan totalitas dalam mencari pengetahuan melalui akal pikiran itu,
ومن العقل التثبت فى كل عمل قبل الدخول فيه.
وآفة العقل العحب وعلى العاقل ان يوطن نفسه على الصبر على جار السوء وعشيرة السوء وجليس السوء فان ذلك مما لا يخطئه على ممر الايام.
Diantara makna penyerahan kijang seutuhnya dalam konteks ilmu adalah ketepatan dalam setiap amal perbuatan sebelum lebih lanjut melakukannya.
Dan kelemahan dan kecelakaan akal pikiran itu apabila ada sifat ujub, takabbur, bangga diri.
Maka orang yang berakal harus mampu menenangkan dirinya untuk tetap sabar atas kondisi tetangga yang jelak, keluarga yang jelek, teman bergaul yang jelek, semua itu bisa mengarah kepada kesalahan sepanjang hari jika tak mampu dilawan oleh akal sehatnya.

واول تمكن المرإ من مكارم الاخلاق هو لزوم العقل.
انشدنى على محمد البسامى.
ان المكارم ابواب مصنفة ÷ فالعقل اولها والصمت ثانيها
والعلم ثالثها والحلم رابعها÷
والجود خامسها والصدق ساديها
والصبر سابعها والشكر ثامنها÷ واللين تاسعها والبر عاشيها.
Yang awal mula tertanam dalam kemuliaan akhlak itu adalah ketetapan akal pikiran.
Disenandungkan syair oleh Muhammad bin Muhammad Assâmy.
Sesungguhnya kemuliaan akhlak itu ada bab perbab tersusun rapi.
Pertama: Akal pikiran.
Kedua: Sifat Diam
Ketiga: Keilmuan.
Keempat: Kesabaran
Kelima:Kedermawanan
Keenam:Kejujuran
Ketujuh: Kesabaran.
Kedelapan: Kesyukuran.
Kesembilan: Kelemahlembutan.
Kesepuluh: Kebaikan.
[Dinukil dari Kitab Raudhatul Uqola’ wa Nuzhatul Fidhola’ Karya Al-Hafiz Aby Hatím Muhammad bin Hibban Attamimy al-Busty, h. 13-16].

 

EPILOG:

Dari kajian tersebut bisa diambil benang merah bahwa konsep menyerahkan mayung sebungkul adalah wujud keikhlasan orang tua untuk didik sepenuh jiwa raganya agar tercapai cita-cita pendidikan dan penguatan karakter anak bangsa yang terpatri jiwa kenabian pada penuntut ilmu, sikap kepinteran, sikap kejujuran, sikap komunikatif dan sikap tanggung jawab.
Menurut hemat saya, Konsep Serah Mayung Sebungkul adalah esensi utama dan paling esensi dari apa yang digagas oleh Kementerian Agama RI tentang Kurikulum Cinta, bagaimana tidak makna mendalam dari Serah Mayung sebungkul itu telah mencerminkan, menekankan, dan menanamkan;
1]. Cinta nilai, cinta kasih, toleransi dan harmoni dalam pendidikan agama dan keagamaan.
2]. Menanamkan nilai-nilai positif.
3]. Mencegah konflik.
4]. Membangun kerukunan.
5]. Mendorong kesadaran ekologis.

Alhasil, Serah Mayung sebungkul dalam tradisi Nahdlatul Wathan telah menjadi spirit dalam meningkatkan motivasi pendidikan anak bangsa yang telah mengakar sejak 90 tahun yang lalu melalui gerakan pembaharuan pendidikan klasikal madrasah NWDI 1937 dalam kiprah strategisnya membangun peradaban bangsa, agama dan negara yang terpatri jiwa keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan yang Maha Esa. Menghadirkan kewarganegaraan yang beradab, penalaran kritis, menghadirkan kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan dan interaksi komunikasi humanis dalam bingkai rel-rel sami’na wa atho’na dalam segala dimensi kebaikan dan kesolahan menuju kesalehan kolektif dan menggelobal.

والله اعلم بالصواب
Salam Takziem,

H. Fahrurrozi Ibn Dahlan Asnawi Said. [Alumni MDQH NW- Guru Besar UIN Mataram].

Bagikan Berita

Share this post